Fave Musics Today

16 February 2009


Frenz.
Liburan ni q ndengerin musik2 kueren.. kayak lagu I Wanna Hav Ur Babies-nya Natasha Bedingfield.. lagunya luchu, seger, nakal.. pokok-e cute..

Trus da lagi 7Things-Miley Cyrus/Hannah montana.. single terbarunya, denger sambil baca teksnya deh, pasti bakal ngrasa 17 lagi, hehehe.. 

Kalo mo download, langsung aja klik judulnya.. Langsung NDOWNLOAD!




p.s.:Hancurkan selera musikmu.. cukup dengan ngikutin selera musikku.. wakakakakakakak...

1 comments

10:58 PM

Second First-Step

07 December 2008



 

Lorong ini mengawalinya,

Kataku padanya.

Tepat di tempat itu Aprodhite menyerah dari bujukan Hazel. Terkesan dari jawabannya yang cenderung mengambang,

“Kita coba dulu, ya?”

“Sampai kapan?”

“Waktu yang bakalan njawab.”

Hazel hanya meng-iyakan statement Dhite’ dengan dahinya yang mengerenyit seraya mengangkat bahunya.

Mereka berjalan hampir beriringan, sampai saat Hazel menarik tangan Dhite’yang berjalan selangkah di depannya. Mereka terhenti. Genggaman tangan Hazel membawa Aprodhite ke tembok terdekat. Pelan, jarak mereka semakin mendekat. Insting defence Si gadis berfungsi. Hatinya merasa sesuatu yang berbeda terjadi. Hazel terus mendekat, terus, hingga tangan yang lainnya menggenggam pasangannya dan memojokkannya ke tembok. Aprodhite semakin yakin akan instingnya. Ia membela dirinya,

“Hez,” “Hezo,”  “Hazel!”

Ia merasa terpojok, pembelaan dirinya meluap.

Cuh!

Ludah meluncur langsung ke muka Hazel. Sedetik setelahnya tamparan melengkapkannya. Belum cukup dengan itu, Gadis 18 tahun itu melingkarkan tangan kirinya ke leher lawannya, sedangkan tangan lainnya mengepalkan tinju. Pria di depanya, di dorongnya ke tembok yang lain.

“Kamu anggap aku apa Hez! Ow, jangan-jangan ini yang kamu maksud dengan mengerti aku? Kalau ini yang kamu cari, silakan incar korbanmu yang lain!”

Dilepaskannya genggaman tangannya dari leher Hazel dan beranjak menjauh, meninggalkannya sendirian. Baru beberapa langkah, ia berhenti, berbalik.

“Kalau ada sesuatu yang aku omongkan ke Tuhan, aku cuma ingin bilang, thanks God, ini cuma masa percobaan. Since now, there’s no more Hezo and Dhite’. It’s Over, Zo!”

It’s over, Zo!

Makin lama frase itu semakin keras dan berakhir serupa lengkingan.

Kriiiinggggg

“Hah!” Sentakan suara itu diiringi hela nafas yang terburu-buru. Hazel tersentak dari tidurnya, ia terduduk setengah membungkuk. Keringatnya mengucur. Sejenak ia menggenapkan jiwanya yang belum utuh. Semenit kemudian, ia menoleh ke arah jam wekernya. Jam menunjukkan tepat pukul sembilan, padahal seharusnya sejam sebelumnya ia harus sudah hadir dalam kelas. Ia lupa men-set ulang alarmnya. Ia tak sempat mengumpat, sesuatu yang biasa ia lakukan. Kepala Hazel terlalu penuh, ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri sekenanya.

Suara sepasang langkah sepatu terdengar cepat, Hazel masih ingin mengejar jamnya yang telah lewat 70 menit. Pasalnya, ini kesempatan minimalnya untuk ikut mata kuliah ini, atau ia terancam melewatkan UTS. Dibukanya pintu kelas sebelum ia sempat menstabilkan nafasnya yang terengah-engah. Apa yang didapatkannya,

“Saudara terlambat berapa menit? Silakan saudara menghabiskan jam kuliah ini dengan menunggu di luar!”

Seisi ruangan menoleh padanya, tak terkecuali, merespon nada keras dari Sang Dosen. Menjawab itu, matanya yang masih berkantung semakin sayu, dengan senyum hormat ia menutup kembali pintu ruangan itu. Langkahnya gontai mencari tempat bersandar terdekat, di kursi itu lamunannya melambung, bersamaan dengan melayangnya kesempatannya untuk lulus mata kuliah yang telah ia lewatkan empat kali. Namun, bukan itu fokusnya saat ini, lamunannya mundur ke mimpinya. Tiga minggu ini telah ia lewati dengan mimpi yang sama. Ia sandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memposisikannya senyaman mungkin. Ia terus saja menyalahkan dirinya, sejak hari itu.

Apa sih yang membuatku sekotor itu! Ck! Gimana aku harus minta maaf ke Dhite’? liat dia aja, aku butuh tiga perempat nyawaku. Fuih!

Ia menegakkan badannya, merogoh saku bajunya, mengambil sebatang rokok, menyalakannya, dan kembali bersandar. Baru separuh batang ia hisap, ia beranjak, berniat menghindar dari pertanyaan teman-temannya yang beberapa menit lagi menyelesaikan jam kuliah mereka. Juga kemungkinan untuk menatap Dhite’ dengan pandangan bersalah. Ia berniat meninggalkan kampus, pergi ke tempat yang dapat membawanya sejenak jauh dari masalahnya yang setumpuk.

Menuju ke tempat memarkir avanza hitamnya, terlihat tak ada yang salah dengannya. Tatapannya lurus ke depan, langkahnyapun pasti, tetapi pikirannya benar-benar melayang. Terbukti!

Ddiiinnn!

“Heh! Jalan yang bener dong! Kamu pikir ini parkiran Moyangmu!”

Seorang pengendara mobil memakinya. Dengan mata sinisnya, ia hanya menoleh sebentar pada pengendara itu lalu memunggunginya sambil mengacungkan dua jari tengahnya tinggi-tinggi. Tak terlalu jauh dari tempatnya memarkir mobil, ia matikan alarm mobilnya. Baru saja ia hendak memasuki pintu sopir, sebuah suara menghentikannya.

“Hazel! Dasar! Kamu memang nggak bisa diajak ngomong baik-baik, ya! Mama nggak ngijinin kamu bawa’ mobil ke kampus kan, sebelum kamu jadi anak yang bener! Itu perjanjian kita kemarin!”

Hazel mendengus, ia tersenyum kecut. Terang saja ia tak pernah tahu. Malam itu, ketika mamanya mulai berceloteh tentang KHSnya, ia mengunci diri di dalam kamar sembari mengeraskan volume mp3 yang tertancap di telinganya. Itu juga sebab mengapa ia tak sempat mengatur ulang alarm wekernya. Wanita paruh-baya yang baru saja turun dari taksi itu mendekat seraya merebut kunci mobil yang dipegang Hazel. Tanpa perlawanan ia lepaskan kunci itu. Mobil itu meninggalkannya. Seseorang memperhatikannya dari jauh.

Ia masih terpaku di sana, memainkan wajahnya, masih dengan pandangan kosong. Lalu, ia berbalik arah kembali ke arah kampus. Langkahnya terhenti tepat di tempat itu, tempat semua tentang Hazel dan dia memulainya. Tanpa kesadaran penuh ia mengambil tempat di salah satu bangku. Beberapa orang melewatinya begitu saja. Bangku-bangku kosong di kiri-kanannya mulai terisi, hingga bangku sebelahnyapun terisi orang. Hazel tak bergeming, pikiran kosongnya masih penuh dengan berbagai masalahnya. Seorang di sebelahnya mengeluarkan sebuah novel, mulai membacanya, sesaat kemudian ia bersuara,

“Pundakku masih boleh dipinjem kok.”

Hazel, pupil matanya kembali hidup, ia mengenali suara itu. Ia menoleh, memastikan prasangkanya. Benar saja, Dhite’ duduk tepat di sebelah kanannya. Rasa kagetnya tak keluar, tertahan di tenggorokannya. Sejenak ia meluruskan tangannya ke meja di depannya seraya menelungkupkan kepala tepat di atasnya, lalu ia tegakkan kembali tubuhnya. Dengan segera tetapi perlahan, ia jatuhkan kepalanya ke pundak Wanita yang memenuhi kepalanya hampir sebulan terakhir. Satu kakinya diangkat ke atas bangku, menyamankan posisinya. Tangannya terlipat di depan dadanya. Memejamkan matanya. Rasanya bebas, diselingi semilir angin yang turut membawa aroma parfum khas Mantan pre-girlfriendnya, semakin meringankannya. Semua berangsur melenyap, semua yang memberatkannya dewasa ini. Dengan tetap terpejam, ia berkata,

“Kalau ada yang ingin kuucapkan ke Tuhanku, it must be,” “Thanks God, for giving me the time just to meet with someone like you.”

Hazel bangun, menegakkan badannya, sekali lagi ia mencoba,

“Aku tidak pernah berhak untuk menanyakan hal ini lagi ke Kamu. Aku cuma mau dengar pendapatmu. Layakkah aku dapat kesempatan ke-dua?”

“Kita coba dulu, ya?”

“Sampai kapan?”

“Waktu yang bakalan njawab.”

Kali ini Hazel benar-benar mengerti dan sepenuhnya meng-iyakan statement Dhite’. Ditutup dengan senyum lepas yang hangat untuk wanita di depannya.

Lorong ini kembali mengawalinya,

Kataku padanya.

 

 

By Melanie AliFf

29092007

 

 

Labels: , ,

0 comments

6:41 PM

You, Smile A Bit



“Me, Me! Dasar, bocah ini. Nggak ada yang laen apa! Ngelamun kok nggak kenal musim.”

Ame menggariskan senyum simpul.

“Liat aku sekarang!” “Ini aku, Rastari.” “Ngelamun nggak bikin kamu sampe’ lupa ingatan, kan?”

Sekali lagi Ame tersenyum simpul.

“Gimana nih, dialog kita? Waktu kita nggak banyak. Kamu mau berhadapan sama Pak Johar!”

“Baru ditinggal ngelamun aja udah segitu sewotnya, apalagi entar setelah kita lulus. You can’t live without me.” “Sini, udah ada ide dikit nih! Kalo’ stuck, ntar terusin ya!” Ame mengambil alih kertas di hadapan Rastari.

Seorang cowok, Diko, menghampiri meja dua teman beda gendernya dari depan, di depan Rastari.

“Ras, ntar pelaj..” Belum selesai bertanya, jawaban telah meluncur,

“BIO!” Rastari hafal, kelihatannya pertanyaan itu sudah jadi tradisi Diko.

“Wuih, sakti juga kamu!”

Rastari tersenyum cukup bijak.

“Heh! Kamu Cuma punya kata-kata itu doang ya? ‘ntar pelajaran apa?’ kelihatannya ‘Tuan’mu nggak berhasil ndidik kamu jadi beo yang baik ya!” Sahut Ame seceplosnya.

“Sakti dari Hongkong, dia aja yang nggak sadar kalo’ cuma bisa ngomong empat kata itu.” Gerutu Ame, yang disambut elusan tangan Rasta di punggungnya.

“Kamu kok ketus sih jadi cewek. Ntar nggak dapet-dapet cowok lho!” Diko balas mengomentari.

Ame berkomat-kamit, mengikuti kata-kata Diko, ekspresinya jelas mengejek. Ia memang selalu sewot setiap Diko memulai pembicaraan dengan Rastari.

Setelah Diko meninggalkan mereka ~karena menganggap tak ada yang harus diteruskan~ Rasta mengambil alih,

“Ampun deh Me! Kamu nggak bisa ya, alus dikit sama Diko? Kamu punya dendam dari reinkarnasi sebelumnya ya!”

“Rasta! Plis deh. Kamu nggak bisa naikin grade kamu? Masa’ cowok kayak gitu yang kamu suka? Yang bener aja! Di luar sana, cowok masih sejuta, kali’!” Ujar Ame yang tak lupa mengurangi volume suaranya pada kalimat yang bisa membuat feeling Rastari ketahuan.

“Syyh!” Rastari celingukan, berdoa semoga tidak ada yang memiliki pendengaran super di sekitar mereka. “Jangan gitu ah! Eh, ntar kamu bisa kena karma lho!”

Ame melengos acuh, namun angannya segera melayang.

Karma, ya. Diko sama sekali bukan tipe-ku sih, tapi gimana jadinya kalo’ Ame sama Diko jadian. Lucu kali yee..

Nyegirnya terbentuk.

Tapi gimana kalo’ beneran ya.

Mck, aku kok jadi mikirin sih! Aduh, gara-gara Rasta nih!

“Ras, udah stuck nih, terusin ya!” ame beranjak dari bangkunya.

“Mau kemana kamu?”

Jawaban Ame hanya lengkungan senyum dan lambaian tanggan pada temannya. Rasta tersenyum maklum.

Langkah Ame terhenti di pintu masuk kelas. Menerawang ke awan siang itu.

‘Ckrik’

Suara jepretan kamera pelan terdengar, bersumber dari sebuah HP di meja terdepan, urutan kedua dari pintu kelas. Cowok Si empunya HP, sebentar menelaah objek fotonya yang hanya menampakkan tampak-belakang seorang gadis. Sebentar setelahnya, pensil 2B-nya mulai menggores garis-garis tipis di atas kertas. Dengan cepat, garis-garis tipis yang berulang kali ia torehkan mulai jelas. Terbentuklah gambar yang serupa dengan foto yang tadi diambilnya dan baru saja dihapusnya. Terlihat ia sudah hafal dengan setiap lekuk objeknya, sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Di ujung bawah lukisannya ia tuliskan 040507. ditambah kalimat kecil ‘I almost see the real you. Your back tell me everythimg, Sugar”

Segera ia memasukkan karya terbarunya ke map hijau berhalamankan wadah plastik-plastik tipis. Ia menyisipkannya ke halaman plastik kosong terdekat. Terpampang karya-karya serupa di halaman sebelumnya, mungkin objek yang sama. Sekelibat terbaca kalimat-kalimat puitis di setiap pojok lukisannya.

‘If there’s a thing sweeter than honey, it must be you’

‘They thought you scary, but I know you’re beauty’

‘When the time’s coming, your smile will be mine’

‘I catch your tears’

dan belasan kata-kata manis lainnya yang dibackgroundni dengan ekspresi yang beragam. Sesaat ia terhenti pada gambarnya yang melukiskan seorang gadis yang tengah memejamkan matanya, ditemani air mata yang meleleh di pipinya. Ia mengingat hari itu.

“Dik!” Sebuah sapaan merusak segalanya. Detak jantung Diko tiba-tiba berdetak jauh lebih kencang. Seorang teman mengagetkannya. Ia membereskan mapnya dan menempatkannya kembali ke dalam tasnya.

“Ntar jadi nyewa studio yang mana?”

“Waduh, ntar aku ada les tuh! Kalo’ mau ngeband ntar Minggu aja!” Jawab Diko sambil menstabilkan irama jantungnya, berusaha terlihat tenang.

 

Kurang 1 meter lagi Ame memasuki gerbang LBBnya, sore itu. Di teras LBB tergambar keadaan yang cukup ramai. Siswa yang masuk-siang baru saja selesai, disusul siswa jam selanjutnya.

Ame melihat seseorang yang dikenalnya, membelakanginya,

“Ras-tari” ia mengurangi volume sapaannya drastis, setelah ia melihat dengan jelas siapa yang sedang berbicara dengan teman sebangkunya itu. Namun Rastari terlanjur menengok, teman bicaranyalah yang meng-kode Rastari

“Hai Me!” Rastari Menyapa

“Oh, Hei!” ame tak lagi bisa fokus dalam memberikan respon dari sapaan temannya. Matanya masih sinis memandang teman bicara Rastari.

“Aku masuk dulu ya, Ras!” Sampai detik terakhirnyapun Ame sama sekali tidak fokus dengan lawan bicaranya, Rastari. Malah ia berpindah lawan bicara tepat setelah matanya terhenti pada tangan kanan orang di sebelah Rastari.

“Bisa, ya! Orang macam kamu pake’ gelang itu. Ternyata kamu cowok juga toh!”

 

Kursi nomor tiga dari depan sebelah tembok, ia duduki begitu memasuki ruangan les nya. Menerawang, Ame menyandarkan punggungnya ke dinding terdekat.

Kok aku jadi ribet sendiri sih. Knapa sikapku ke Diko malah jadi nggak kekontrol gini! Ngapain juga aku komentarin gelang itemnya! Penting nggak sih! Tapi pantes, agak beda, rupanya gara-gara gelang itu toh! Not bad lah!

Ame tersenyum sendiri memandang tangan kanannya yang memakai gelang serupa.

Mck!

“Fokus me! Fokus!” Kata Ame sembari menepukkan kedua tangannya di depan wajah beberapa kali.

Apa-apaan sih!

Hiih.. amit-amit deh!

Sadar dong Me. Kamu masih memperhitungkan Rasta, kan. Kalo’ kamu tiba-tiba suka dia sekarang, nggak fair donk! Inget Me, Rasta itu bener-bener suka sama Diko.

“Ssshh! Huuh..” Ame mendengus, mencoba mengeluarkan isi otaknya yang aneh.

 

“Me, Me. Kamu OK kan? Gimana? Nggak ‘papa kok, kalo’ kamu nggak jawab sekarang. Aku bisa nunggu.” Sebuah suara menyadarkannya.

Pandangan Ame jatuh ke halaman-halaman dari map hijau yang ada di pangkuannya. Ia baru saja membolak-balik lembaran-lembaran yang penuh dengan gambar dirinya, sepuluh menit lalu. Ia sadar, tempo itu Diko baru saja membuka segala rahasia hatinya.

Ame berusaha mencari sosok yang sangat ingin ia temukan.

Itu dia Rasta!

Sejenak Ame memandang penuh bimbang pada gadis itu. Rasta mengangguk dengan raut bahagia, tampak tulus, walaupun ada sudut kecil yang menjelaskan keberatannya.

Ame merasa lebih baik, hanya belum cukup baik.

“Aku nggak bisa jawab sekarang.” Selain senyum kecil penuh hormat, kata itu jadi kata terakhirnya siang itu. Ame berdiri menyandang tasnya dan meninggalkan kerumunan kecil teman-temannya. Diko mengikutinya hingga pintu kelas, terhenti, tegak memandang Ame yang memunggunginya, berusaha mengerti. Ame berjalan.

Aku tahu Ras, ini nggak akan pernah adil buat kamu. Sorry. Tapi aku nggak sejahat itu. Nggak akan aku ijinin kamu nyaksiin peristiwa yang jelas ngehancurin ‘atimu. Makasih anggukanmu, Ras! Tunggu aku, Ko!

Sembari hatinya bergejolak, sebuah sms terkirim. Ia masukkan HP-nya ke dalam tasnya. Dengan tetap memunggungi mereka yang menantikan jawaban yang lebih darinya.

‘Drrrt..’

Diko memeriksa HP-nya yang baru saja bergetar. Sebentar setelahnya ia memandang Ame yang semakin menjauh, ia tersenyum.

 

 

 

A. Maulani --03052007

Labels: , , ,

0 comments

6:40 PM

LINK to another ME

06 December 2008


1 comments

5:35 AM

SIMFONI ROLLER COASTER

04 December 2008


Kupikir aku tidak pernah mencintainya, tapi aku tak pernah bisa menghindar dari ketetapan Tuhan, nyatanya aku mencintainya, sangat.

Dia pernah bicara seperti ini padaku,

Jadi selama ini, kamu melihat aku dari sisi dominanku aja?

Dan ketika aku menjawab,

Maaf, aku tak pernah melihatmu sedangkal itu,

Dia kembali menjawab,

Bukan bermaksud menuduhmu, tapi hampir semua orang memandangku lewat apa yang ditawarkan oleh pantulan fisikku.

Aku marah saat itu, sangat marah. Dia tak pernah mengerti panjangnya filosofiku atasnya, berbagai alur yang harus kulalui sendiri untuk membangunkanku, menyadarkan diriku, bahwa dia hanyalah dia, bukan sesuatu dari masa lalu yang kembali ke sini dari suatu detik di masa lalu.

Tapi kini, kuterduduk, menerawang sendiri. Benarkah sedalam itukah perjuanganku untuknya, benarkah aku tak pernah tersilaukan kemilau rupawan yang akan selalu ada padanya.

Keindahan adalah nikmat, sedangkan ia adalah keindahan yang lain. di lidahku, ia melebihi sebuah nikmat. Di hatiku, ia tak lebih dari segelas air segar yang kuharap bisa melegakan keringnya yang telah kubawa seumur hidupku. Paradoks.

Benar kata Rama,

Di dunia ini, tak ada orang yang tak ingin punya kekasih.

Tetapi mungkin akulah yang terkutuk, hanya bisa mencintai bukan dicintai.

Aku kembali terbakar amarahku sendiri, aku tak mau terkutuk. Aku tak mau terkutuk. Aku tak pantas terkutuk. Lalu sejenak aku berhenti dan menoleh ke suatu sudut dibelakang bahuku. Ketika kuhadapkan kembali ke depan, aku berpikir. Aku tersenyum sinis, senyum sinis yang terasa pahit. Jangan-jangan amarahku menunjukkan kejujuranku, aku memang tak pernah pantas dicintai.

Aku mencintainya. Hanya sejauh itu aku berani mengakuinya.

Aku tahu dia tak akan mencintaiku, tetapi aku bertahan. siapa tahu Dia akan terketuk untuk menghadiahiku, sebagai kado ketetapan hatiku.

Kupikir aku tidak pernah mencintainya, tapi aku tak pernah bisa menghindar dari ketetapan Tuhan, nyatanya aku mencintainya, sangat.

Dongengku tentangnya telah separuh jalan, tersusun dengan begitu sempurna dalam alamku sendiri. Hanya aku yang mengerti. Dia tanpa cela. Benar-benar begitu indah. Karena ia memang tak bercela. Alam-pun tak akan berani mencelanya. Tak pernah ada debu yang berani menodainya.

Berulang kali kuganti namanya, berulang kali kuhapus namanya, hanya sebagai harapan bahwa aku tak akan lagi memandangnya. Hingga sampai pada hari itu, ketika aku memutuskan untuk setia padanya.

Hari itu aku tegak menapak dan bersumpah untuk setia. Hari ini aku kembali meragukannya. Bukan keraguanku yang pertama.

Setulus itukah aku?

Dia pernah menawariku tawaran menggiurkan,

Bagaimana kalau kita berteman dengan benar?

Kata ‘teman’ bukan lagi sesuatu yang aku inginkan. Saat ini aku terlalu serakah untuk hal semacam itu. Aku menginginkan yang lain, aku menginginkanmu. Melebihi segala yang kau miliki.

Kupikir aku tidak pernah mencintainya, tapi aku tak pernah bisa menghindar dari ketetapan Tuhan, nyatanya aku mencintainya, sangat.

Sangat,

Terlalu,

Benarkah bukan sesuatu yang lain?

Roller coaster.

 

 

Ketika saatnya datang, aku akan memberitakan pada dunia bahwa aku tak lagi mencintaimu,

Tetapi bukan saat ini.

 

A. Maulani – 05112008, 21:22

Labels: , ,

0 comments

6:25 AM

Tak Ada Sesalku Untukmu


..S’lamanya, kan ku jaga dirimu, seperti kapas putih dihatiku, takkan ku buat noda...

Alunan lagu itu berarti baginya, lebih dari sebelumnya. Lagu inilah yang melatarbelakangi malam itu, ketika Mithe, sahabat baiknya menangis di hadapannya. Ia tak pernah menyangka, Mithe akan berada sejauh itu.

Sampai hari ini pun Jimmy masih belum percaya jika Mithe mengaku terlanjur berbadan dua padanya. Memang ia sempat merasa berat ketika Mithe mengaku telah jadian dengan laki-laki itu, tapi ia benar-benar tidak pernah menyangka akan berakhir pada titik ini. Rokok, barang yang tak pernah ia sentuh selama ini agaknya menjadi saksi kegundahan hatinya. Sore itu ia menatap segerombolan anak kecil yang memainkan bola di tanah lapang. ia bersandar di thundernya, asap mengepul dari mulutnya. Di satu sisi Jimmy menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dia tidak pernah memperingatkan Mithe sebelumnya? Mengapa dia lebih takut dianggap over protective daripada menyelamatkan seoarang sahabat yang paling dia cintai?

HPnya berdering. Tanpa melihat nama si pemanggil ia mengangkatnya. Cukup lama ia diam, ia tahu, diseberang sana ada sahabatnya. Ia masih menunggu sahabatnya membuka pembicaraan.

Ssk..

Sebuah suara terdengar. Jimmy menganggap isakan itu membuka pembicaraan mereka.

“Kamu di mana?”

“Di kos.” Mithe menahan sebisa mungkin agar terdengar tegar.

“Jangan ke mana-mana!”

Tiit!

“Jim. Jimmy?” kata itu tak mungkin terdengar oleh Jimmy. Jimmy memutus pembicaraan, dan segera menstarter sepeda motornya, meninggalkan gerombolan anak-anak itu. Tak lama, ia telah berhenti di depan sebuah pintu. Tanpa mengetuk, Mithe keluar, menyambut suara mesin yang telah dihafalnya. Matanya jelas terlihat sembab. Keduanya duduk.

“Jim.”  ssk.. “Aku harus gimana?”  ssk, ssk..”A..Aku,”  Kata-katanya terputus putus, Mithe mulai menangis.

“Siapa saja yang sudah tahu masalah ini?”

“Kamu, cuma ke kamu.” Jawab Mithe yang berusaha menstabilkan emosinya.

“Aku dan cowokmu aja, kan! Yang tahu masalah ini.”

Mithe menggeleng, “Kamu, cuma ke kamu, Jim.”

“Jadi cowokmu sendiri juga belum tahu?” Nadanya sedikit meninggi

“Aku tahu dia, Jim! Dia, dia, nggak akan mau...” Mithe tak kuat menyelesaikan kalimatnya, tangisannya kembali tak tertahan.

Jimmy memeluk Mithe, mendekapnya hangat.

“Jangan ditahan!”

Mithe menurutinya, Mithe menangis keras dalam pelukan Jimmy, dari luar hanya terdengar serupa gumaman pelan. Cukup lama hingga tangisan Mithe mereda. Mithe melepaskan pelukan. Baju Jimmy basah, terlalu basah untuk ukuran keringat. Ini kali kedua Mithe menangis di pelukannya. Setiap kali Mithe hanyut dalam perasaan menyesalnya, dekapan Jimmy-lah satu-satunya penenang baginya. Usai menutup pembicaraan, mereka kembali ke tempat mereka masing-masing. Mithe yang nampak lebih segar dari sebelumnya, masuk ke dalam indekosnya. Jimmy, memacu sepeda motornya, kembali ke rumah.

Sejak kembali dari kos Mithe, sampai saat ini, Jimmy hanya memainkan bolpoinnya serta membiarkan buku-buku pelajarannya terbuka begitu saja. Padahal, besok adalah hari pertamanya menghadapi UAS. Walaupun ini semester awal bagi seorang mahasiswa, tapi Jimmy telah bertekad untuk segera meraih gelar SH-nya. Ia bahkan telah menetapkan target IP yang tinggi. Ia harus belajar ekstra keras. Ia ingin membuktikan pada keluarganya bahwa ia akan sukses menjadi pengacara dan membuktikan keputusannya menolak tawaran bergabung di perusahaan keluarga adalah benar. Ia sempat diremehkan, setelah 2 tahun sebelumnya ia sempat gagal menyelesaikan pendidikannya di fakultas psikologi.

Ia berdiri, menuju kamar mandi, ia berwudhu, dan melepaskan bebannya pada Sang Pencipta. Setelah sembahyang, ia terlihat lebih segar. Kembali Jimmy duduk di hadapan buku-bukunya, tetapi kali ini ia siap melahap seluruhnya.

Setelah tidur cukup malam itu, Jimmy nampak sangat siap menghadapi kumpulan soal yang akan menentukan nasibnya di lembar KHS nantinya. Tidak ada yang ia ingat selain apa yang telah ia pelajari semalam dan tekadnya untuk lulus cepat. Langkahnya mantap menuju ruang ujian. Naskah telah dibagikan, ujian dimulai.

Bbbrrrrttt.. bbrrrttt..

Sebuah handphone bergetar di atas meja. Jimmy benar-benar melupakan semua hal yang tidak berkaitan dengan ujiannya hari ini. HPnya tertinggal.

Bbbrrt.. bbrrtt..

Handphone itu kembali bergetar.

“Jim.. Kamu dimana?” Sebuah suara terdengar sangat cemas, bergetar, sang pemilik suara menahan tangisnya.

“Jim, angkat dong.”

Please Jim, tolong angkat!”

Si penelpon menyerah, telpon terakhirnya hanya dijawab oleh layanan operator.

Ujian selesai.

Jimmy puas dengan hasil kerjanya, ia keluar dari uang ujian dengan wajah sumringah. Langkahnya untuk keluar dari koridor kampus, terhenti oleh sapaan temannya dari belakang.

“Jim, ada telepon buat kamu nih! HP-mu ketinggalan, kan?”

“Dari siapa?” Jimmy menjawab.

“Dari temenku yang se-kos sama Mithe.”

Deg!

Jantung Jimmy seakan berdetak hanya sekali. Ia tahu, sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.

“Halo..” Jimmy membuka percakapan.

“Halo, ini Jimmy ya? Jim, kamu cepetan ke rumah sakit. Mithe, dia coba-coba untuk bunuh diri!”

Pandangan Jimmy mendadak kosong. Seakan tak ada waktu untuk syok, Jimmy segera sadar dan memacu sepeda motornya sekencang mungkin, secepatnya menemui Mithe. Dalam otaknya semuanya bercampur menjadi satu. Bagaimana keadaan Mithe, apa yang ada di pikiran Mithe, mengapa ia bisa lupa pada Mithe, semuanya bercampur.

Ia berlari menuju instalasi gawat darurat, sesampainya di rumah sakit tersebut. Disana ia di sambut orang yang menelponnya tadi.

“Mithe baru aja sadar. Selain namamu yang disebut, dia cuma nangis.”

Jimmy menapak lambat, membuka kirab yang menghalanginya menatap Mithe secara langsung. Jimmy melirik pergelangan tangan Mithe, dan itu cukup menjawab.

“Mithe, kenapa harus kayak gini! Maafin aku, Mit!” Jimmy memeluk Mithe dengan sangat hati-hati.

“Bu-kan sa-lah-mu, Jim! A-ku a-ja yang nggak ku-at.” Jawaban mithe terpotong-potong.

Dengan menggenggam tangan Mithe, Jimmy terdiam agak lama sebelum akhirnya pecahlah kalimat itu,

“Mit, will you marry  me?”

Mithe tersentak mendengar kata itu, “Kamu ngo-mong apa sih, Jim?” kalimat Mithe terdengar lebih padu, walaupun masih cukup lirih.

“Iya Mit, kamu mau jadi istriku?” Jimmy melepaskan cincin yang ada di jarinya dan memasangkannya ke jari Mithe, sebagai simbol keseriusan hatinya.

“Apa-an sih, Jim!” Jawabannya yang seakan tak setuju, tak membuat jari manisnya menolak cincin Jimmy.

Jimmy mencium kening Mithe, lama. Hingga Mithe terlelap dalam senyum.

Walau cincin itu tak pernah pas di jari manis Mithe, tetapi jauh di dalam hati Jimmy, ia tahu inilah jalan yang paling pas untuk mereka. Jimmy tak ingin menyesal lagi di hari yang lain. Dia tak akan menyesal untuk menunda planning lulus-cepatnya, dan menerima tawaran orang tuanya untuk bekerja di perusahaan keluarga, demi seorang wanita di depannya, seorang calon ibu.

 

By A. Maulani

Dec 15th, 2007 — 1:16

Labels: , , ,

0 comments

6:22 AM

Pra-Bahasa Perawan

12 September 2008


Rasanya sekarang ombak sedang badai besar,
Dari tadi tubuhku terus saja bergoyang,
Kiri-kanan-kiri-kanan-kiri...
Atau, ini hanya ilusi samudra otakku yang kepenuhan.
Beberapa, eh, banyak. Banyak memori tentang orang ini yang semakin berat saja untuk kujejak kembali. Otakku terjejali terlalu banyak tentangnya. Bahkan range untuk statistik I-ku ikut termakan lahannya. Sebenarnya, sejak dulu sudah berat untuk selalu mengingat tentangnya, karena ketika mengingatnya, secara langsung akan menghubungkannya dengan realita yang sebaliknya.
Aku mengaguminya-aku tak akan pernah dikaguminya.
Di umurku yang sudah hampir 19 di tahun ini, istilah pacaran masihlah impian bagiku. Semua orang pasti menertawainya, tak apa, karena aku juga akan menertawakannya, lebih kencang dari tawa kalian semua. Aku masih saja belum yakin, apakah orang ini adalah hatiku? Cintaku yang kedua? Yang pertama? Yang pertama, habis dilahap temanku sendiri. Yang baru ingat kalau cowok yang ditaksirnya, adalah orang yang seharusnya didekatkannya padaku, setelah mereka putus.
Orang ini, sudah lama aku berniat menguras semua tentangnya dari cairan otakku, sudah kubuang rasa ini jauh-jauh, sejak ia mulai melirik seorang yang lain. Saat ini otakku masih saja berdebat denganku, ia tak mau mengeluarkan kata tentang orang itu. Rasanya langit dekat-jauh-dekat-jauh... kepalaku juga ikut, sempit-luas-sempit-luas...
Aku selalu ngeri ketika membayangkan orang ini diambil begitu saja oleh orang semacam monster kriting yang mengaku teman, dan yang diucapnya padaku hanya, “Ups, aku lupa kalo’ kamu yang suka”
Aku mau orang ini. Orang ini, orang ini, orang ini. Rasanya benar-benar mati ketika ia berhenti menganggapku ada, seperti belakangan ini. Separuh hidupku menghilang, rasanya tak imbang. Ketika berjalan, kutengok kakiku hilang satu. Saat makan, kutengok garpuku terdiam, tangan kiriku hilang. Saat aku menarik nafasku, lubang hidungku tinggal satu.
...ss, ...ss, ...ss. gawat! Bahkan sekarang ini aku sudah tak bisa memanggil namanya dalam kata lengkap. Terlalu berat.
Terakhir aku tersiksa rasa semacam ini, adalah empat tahun lalu, pada cinta pertamaku yang dimakan monster kriting. Monster kriting itu masih disekitarku hingga kini. Senyumnya lucu, tapi tetap berhasil membuatku jijik saat mengingat caranya memakan cinta pertamaku, menjijikkan! Tapi entah bodoh, atau apalah itu, aku masih memeliharanya. Dan masih selalu berharap dia akan menemaniku bolak-balik Surabaya-Gresik.
Masalah-masalah lainku, sepertinya sedang kompakan untuk muncul sama-sama. Membuatku mendadak bodoh, tak tahu prioritas. Dahiku berkerut sejak tadi, dan aku sudah mulai capek menahannya terus berkerut. Tapi aku tidak juga mengendurkan kerutanku. Mulutku ikut berkerut sekarang. Awal minggu ini, orang ini begitu indah. Senyumnya masih terlempar padaku sekali-kali. Mata sakawnya masih membuatku terbang melintasi kerajaan milik bapaknya Hercules. Kutukannya padaku juga sempat terlontar, dua kali. Tapi, kutukan itu indah buatku. Indah, daripada tak dapat apa-apa darinya.
Aku sudah sering curiga, orang ini sudah lama membongkar samaran perasaanku, yang berkedok “sok biasa”. Terkadang otakku menanyaiku balik, kalau memang dia tak berbalas, mengapa masih ada hari indah yang membuatku semakin sering menggunakan tinta emasku yang terbatas, untuk menuliskan cerita tentangnya dalam lembaran hatiku. Berlembar-lembar. Otakku curang, jika ia bertanya padaku, aku akan jawab pakai apa. Otak yang bertanya, siapa yang akan memikirkan jawabnya untukku?
Kalaupun perasaannya benar berbalas, kenapa secara eksplisit membongkar samaranku ke khalayak. Kadang, masih sering terlintas, pikiran yang sering kupikirkan saat umurku 9 tahun. Aku telah kehilangan separuh dari apa yang aku miliki. Tangan kiriku tak ada, lubang hidungku tinggal satu, kini satu mataku mulai berputar mengendur, serupa skrup yang keluar dari bautnya. Hidupku di ujung waktu. Jika memang ini akhir hidupku, kenapa tidak sekalian saja kuhabiskan dan kuakhiri ceritanya dengan kehendakku. Kadang aku berpikir serupa anak 9 tahun. Akan kudatangi orang ini. Kugunakan kedua tanganku, ya, tanganku akan utuh lagi ketika menyentuh wajahnya. Kusentuh dan kupertahankan kedua tanganku di sisi kiri-kanan pipinya. Kugunakan kedua mataku yang normal, mataku tak akan jadi skrup, jika yang kutatap matanya. Kutatap matanya selama mungkin. Kutarik nafasku yang terlega, dengan kedua lubang hidungku, dan langsung kukunci bibirnya dalam bibirku. Hingga aku mati. Akan kurasakan itu sebagai racun hidupku, yang akan membunuhku, sekaligus sebagai madu jiwaku, melepaskan kehausanku selama 19 tahun. Aku rela mati. Kalau memang aku bisa sekuat itu. Tak mungkin aku sekuat itu. Jika aku memang sekuat itu, cerita ini seharusnya tak pernah tergores. Jika aku sekuat itu, aku tak perlu orang ini untuk terceritakan. Aku hanya perlu cinta pertamaku, dan dia saat ini pasti masih hidup, belum dimakan monster kriting itu.
Pada akhirnya aku berkaca dalam air dibawah mataku, aku cuma pengecut, pada akhirnya aku akan membuat orang ini bernasib sama seperti cinta pertamaku. Jika tak dimakan monster kriting, ya, kubiarkan dia berjalan menuju jalanan tanpa ujung, hanya mengiringinya dengan lambaian tangan dan senyum, bodoh!


A. Maulani – 19032008, 21:07

Labels: ,

1 comments

4:22 PM

The Hidden Love , Just For Me

21 August 2008



Kujadikan dia sebagai alasanku, lagi, untuk kedua kalinya…


Regret nothings, fear less,then just do it! Kugumamkan kata itu berulang kali, kutanamkan jauh dalam pusat hatiku. Harus kupastikan bahwa kata itu benar-benar tertancap, sebelum semua tentangnya terlalu jauh,
Bout that boy..
It’s not about fear, it’s about love, bout heart. Rupanya sisi lain diriku menolak pendapatku sebelumnya. Detik ini kebimbangan berdesir dalam dadaku.
Saat ini tatapanku melekat kuat pada wajahnya. Tiga bulan bukan lagi waktu yang singkat untuk memendam beban seberat ini. Ingin sekali kucari tahu apa yang mesti kuketahui, selama ini selalu saja samar. Sebenarnya sejauh mana dirinya padaku, sedekat apa seharusnya kita berdua.
Aku pencinta manusia, aku ingin selalu menebak apa yang mereka pikirkan. Kedinamisan mereka membuatku ingin tahu. Biasanya semua itu terasa lancar, untuk tahu semua itu. Tetapi kenapa keraguan-mutlak terjadi saat kucobah telaahnya.
Karena itu, karena semua itu, ingin sekali kuhadapkan kita dalam empat mata, dan akan kutanyakan berentet, beribu, dan berjubel pertanyaan tentang kita, tentang yang seharusnya terjadi. Bukan yang kuinginkan terjadi atau imajinasiku yang selalu memaksaku mewujudkannya.
Nampaknya sisi otakku yang lain membuatku kembali tenggelam dalam ragu. Haruskah seorang gadis baik-baik melakukan itu?
NO WAY! OF COURSE NOT!
Lalu akan seperti apa tindakanku. Hari ini kuhentikan pertengkaran pribadiku sampai disini, titik. Tak ada niatan untuk menuntaskannya sekarang. Karena saat ini aku harus kembali ke realita. Kulepaskan tatapanku darinya, sebelum ia merasa diawasi.
-
Kutatap dirinya,
Bukan cantik, bahkan sebenarnya tidak terlalu. Tetapi ada alasan lain kenapa dia menempati tempat spesial di jantungku, teristimewa di paru-paruku dan memiliki seluruh jiwaku.
Aku tahu selama ini dia mengawasiku.
MUNGKIN,
Mungkin dia mengawasiku. Matanya terlalu dalam untuk diselami, senyumnya terlalu rumit untuk dimengerti. Begitu tulus, namun maknanya belum tertangkap olehku. Selalu saja memberiku misteri tersendiri.
Entah. Aku merasa nyaman seperti ini, menatapnya. Kalau dia yang akan jadi milikku, ia akan jadi yang pertama, karenanya lubuk kecilku kurang-lebih berharap takkan ada kegagalan.
Belum juga kutemukan sesuatu itu, yang dapat memantapkan hatiku. Sampai saat ini, setelah kutatap dia selama setengah semester. Apa perlu kuyakinkan diriku bahwa dia akan menjawab seperti yang kubayangkan? Itu memang tidak terlalu penting, namun itu mungkin yang membuat sedikit keraguan yang berkecambah.ADVICE?I guess Iy!
-
Bukan lagi dia yang kutatap, melainkan langit-langit kamarku. Kuputuskan untuk menemukan ketuntasannya malam ini, tentang langkahku kedepan menghadapinya. Harus tuntas. Tak kuhiraukan lagi jam yang terus berputar, waktu yang terus berlalu, malam yang makin larut.
Aku tekankan pada diriku, kuingatkan pada jiwaku, bahwa aku hanya seorang gadis. Dan sudah seharusnyalah, gadis hanya menunggu. Apapun zamannya, hawa akan tetap menunggu.
Well, I’M QUIT.
Kucukupkan kebimbanganku, keraguanku selama ini. Aku keluar dari rasa ini. Belum terlalu jauh, belum terlalu jauh untukku menghilangkannya. Biarkan dia jadi cintaku yang terpendam, cinta yang pernah ada, tanpa ada yang tahu.
-
Dua kawan mendukungku, jawaban lain yang tersisa hanya ‘terserah’ dan ‘nggak tahu’, yang terakhir malah menginterogasiku balik jati diri gadisku Ehm, incaranku. Namun dapat dipastikan dia pulang dengan tangan hampa, karena aku tidak akan mengungkapnya sebelum usai.
Kurenungi kembali pendapat-pendapat temanku, dan akhirnya kudapatkan juga kesimpulan,
OK,I’m game!
Apapun jawabannya bukan menjadi masalah. Yang penting aku telah mencoba menjadikannya milikku.
-
Aku bertatap mata dengannya, lebih dekat dan lekat dari biasanya.
-
Tatapan ini, tidak, jangan keluarkan sekarang! Itu bisa merusak rencana agungku. Menjadikanmu milikku.
-
Kuberanikan diri untuk kembali mencoba membaca apa yang dipikirkannya saat ini. Namun, tiba-tiba saja terlintas keputusan akhirku semalam, I’m quit. Kutundukkan diriku, kuputuskan tetap memegang kata itu.
-
Kenapa kau lepas senyummu, jangan sekarang. Kau membuatku ragu, lagi. Mengapa jawabannya kembali jadi penting? Telah kuputuskan bahwa aku akan masuk dalam permainan ini. Kutarik dan kulepas nafasku sedikit lebih lambat dari biasanya, melonggarkan rongga dadaku yang terlalu sesak. Setelah berusaha keras, akhirnya terlontar juga kata itu, kupinta ia menduduki tempat terkhusus di hatiku, jantungku, dan seluruh jiwaku.
-
Jantungku berdetak terlalu keras, aku terlalu kaget untuk kata itu, yang terlontar dari mulutnya.
Aku..
Aku,
Ehm! Aku harus fokus pada keputusan akhirku. Sudah kuputuskan!
Sudah kuputuskan,
Kuputuskan apa,
REGRET NOTHINGS,FEAR LESS, JUST DO IT!
Hanya itu yang teringat diotakku, terutama dua kata terdepan.
REGRET NOTHINGS, terus saja berulang. Jangan sesali apapun¬ atau mungkin lebih terdengar jangan sampai menyesal! Ditambah seruan lain yang bersaing,
It’s not ‘bout fear, it’s ‘bout love, about YOUR HEART!
Demam-panggungpun seketika muncul di tempat tak seharusnya, didepannya. Aku hanya terpaku tanpa jawaban. Bukannya berkoorporasi, seruan-seruan di otakku semakin kencang. Akhirnya keluar juga jawabanku, bukan kata-kata, hanya anggukan. Kusadari otakku mengangkat bendera putih pada hatiku, kukembangkan senyumku, kutatapkan mataku setulus mungkin, sedalam yang kubisa pada sosok didepanku.
-
Tatapan itu, aku tahu! Senyum itu, aku mengerti!
Aku memecahkan sebagian misteri atasnya. Senyumnya, pandangannya, segala yang ia berikan padaku selama ini adalah perasaan yang sangat kuinginkan, jawaban yang selama ini membimbangkanku.
-
Tabir tersirap, semua terbuka. Dia padaku. Sejauh inilah seharusnya kita berdua.

By Melanie AliFf
02112006


Labels: , ,

0 comments

6:19 AM

Backstreet, Better?


Sebentar kuingat, kenapa aku putuskan untuk backstreet dengannya? Aku lupa! Apa memang aku tidak pernah punya alasan hingga berkomitmen dengannya?
Gumaman itu berluapan dalam hati seorang pria, Zen namanya. Remaja 18 tahun itu mulai gusar dengan kehidupan cintanya. Bisa dibayangkan, ia berstatus in relationship sekaligus dengan dua wanita. Chya, adalah yang pertama dan yang rahasia, sedang Geas adalah yang diketahui seluruh temannya. Ia punya alasan yang sangat jelas untuk “jadian” dengan Geas. Tinggi, semampai, putih, dan hal-hal fisik positif lainnya, semua itu ada pada Geas. Tapi Chya, dia Cuma pacar yang tak pernah diproklamirkan pada khalayak, namun tak pernah terbesit olehnya untuk membuatnya selesai.
Sebentar kutanyakan padanya. Zen berjalan menuju seorang gadis berambut hitam, lurus sepinggang.
“Chai, nanti ke tempat biasa.” Zen harus extra hati-hati dalam menjaga kerahasiaan hubungannya, pasalnya pacar rahasianya, Chya, tak lain dan tak bukan adalah teman sekelasnya.
“Ngapain tiba-tiba ke sini. Bukannya Cuma Jumat malan kita nongkrong di mari!”, selonong gadis yang biasa disapa Chai ini, ketika baru saja duduk di sebuah taman baca sekaligus toko buku kesayangan mereka.
Hampir bisa dipastikan, tiap Jumat malam mereka duduk di meja nomor tiga, masing-masing memegang satu buku atau komik, membacanya, sambil diselingi obrolan tanpa tatap wajah. Bisa dimaklumi jika mereka cukup bosan melihat wajah satu sama lain, terang saja, ini sudah memasuki bulan ke-6 mereka sekelas, dan bulan ke-2 setelah mereka putuskan untuk bersama.
“Aku juga ngerasa ganjil duduk di sini. Sore-sore, masih pake’ seragam lagi.”
Chya diam, tanpa tanggapan, tanpa cuapan, sejenak hening, tak lama Zen kembali menyambungnya.
“Chai, pernah mikir nggak, kenapa kita …”. Tanpa melanjutkan kalimatnyapun, Chya sudah tahu apa yang Zen maksud. Namun Chya belum juga bersuara, mereka masih dalam komik masing-masing. Hingga di ujung sore, pembicaraan belum juga berlanjut, dan akhirnya mereka memutuskan pulang.
Orion, Orion, Orion. Cuma kata itu yang Chya “dendangkan” seusainya dengan Zen sore itu, sambil memainkan bolpen yang ditemani buku PR dihadapannya. Sekedar informasi, Orion yang dimaksud bukanlah nama rasi bintang. Seperti halnya Zen, Chya juga berstatus berpacar ganda.
“Manis, bersih, jabrik. Perfect! Zen? Berangasan, item, kumel. Wah! Bener-bener nggak bisa dibandingin.”, ia menertawakan lamunannya sendiri.
“Yang bisa kuingat, waktu itu dia jomblo, aku jomblo, dia nembak, aku terima. Nggak tau sih! Cuma, aku betah aja deket dia.”
Dia yang buat aku berani nembak Geas, dia yang ngilangin semua raguku. Pelukan terakhirnya saat itu membuat semua raguku luruh, membuat hatiku tenang, membuat diriku nyaman.
Zen mengingat kembali, ia mundur ke sekitar dua bulan sebelum hari ini. Saat itu makan siang, siang yang paling membosankan bagi Zen. Karena itu, dia memutuskan tidak beranjak ke kantin. Duduk dipojokan kelas dengan wajah tertunduk menyentuh meja, siku di meja. Hari itu membuat Zen 100% tidak nyaman. Tekanan dari teman-temannyalah yang mungkin membuat Zen makin terpuruk. Keberanian Zen untuk menyatakan perasaannya pada Geas yang empat bulan ini telah diincarnya, ditantang.
Saat itu kelas cukup sepi, tak banyak anak, lagipula masing-masing sibuk dengan diri mereka sendiri. Zen tak tahu benar sejak kapan Chya berada tepat disampingnya yang kemudian memeluk tubuhnya, seraya menempelkan wajahnya ke punggung Zen.
Tak perlu ditanya, jelas Zen kaget, kaget bukan kepalang malah. Bukan pacar, bukan saudara. Zen ingat benar kalau dia sempat berontak sebagai respon atas kagetnya. Namun itu tak membuat pelukan Chya melonggar, bahkan semakin ia eratkan ditambah pijatan penenang pada bahu Zen sambil berkata,
“tenang, nafas aja yang teratur.”
Cukup lama sampai akhirnya Chya melepaskan pelukannya. Sesaat sebelum ia beranjak dari bangku Zen, yang Zen dengar,
“Aku nggak suka liat kamu diem.” Selang seminggu setelah hari itu, entah roh mana yang tiba-tiba membuat Zen meminta Chya menjadi miliknya. Sangat minim persiapan. Terlihat dari pilihan kata yang digunakannya.
“Mau jadi pacarku?” ucapnya saat itu, setelah memastikan hanya ada empat mata di tempat itu.
“Backstreet?”, Chya malah balik memberi Zen pertanyaan, namun lebih terdengar sebagi tanggapan.
“Backstreet.”
Kata itu menandai awal kisah mereka. tetep rame di sekolah, diam saat berdua. Disusul dengan acara penembakan Zen yang kedua pada Geas, tepat enam minggu setelah hari itu.
Zen menghentikan lamunannya, mematikan lampu dan segera pergi ke alam mimpi.
Kamis siang, setelah jam makan siang. Saat ini ada sedikit keributan antara Zen dan beberapa temannya.
“Kamu waras Zen? Empat bulan ngincer, trus cumin kamu pacarain dua minggu? Gila!”
Tanggapan, sama sekali tak keluar dari mulut Zen. Chya yang otomatis mendengarpun tak memperlihatkan respon.
Beralih ke Chya, sebenarnya Chya mendahului Zen dua minggu untuk mengikat komitmen dengan Orion, yang tidak satu sekolah dengannya. Masing-masing mereka ~Zen dan Chya~ tahu bahwa yang lainnya mendua, namun keadaan tidak pernah berubah. Tidak putus, tidak juga membuka kedok backstreetnya.
Tiba saat berkemas untuk kembali ke rumah. Seperti biasa Orion telah menunggu Chya, menjemputnya, mengembalikannya ke rumah orangtuanya. Namun beberapa menit sebelum Chya menempatkan dirinya di belakang Orion, terlihat mereka mendiskusikan hal kecil dan diakhiri dengan senyum misterius Orion. Mereka meninggalkan sekolah.
Jumat malam kembali hadir. Seperti selama ini, meja nomor tiga, suasana bisu, komik, dan sepasang remaja dalam sebuah toko buku. Setelah melewati 1 ½ jam bisu, Chya mengeluarkan sedikit kata,
“Geas, lewat. Kita?”
“Kita?”
“Nggak backstreet lagi?”
“Kamu pengen?”
”Nggak.”
“Putus?”
“Nggak.”
“Nggak?”
Percakapan super irit itu ditutup dengan suara Zen yang bernada tanya namun diakhiri dengan anggukan sok mengerti. Keadaanpun kembali sunyi. Hingga jam menunjukkan pukul sembilan, mereka belum juga mengangkat badan untuk meninggalkan taman baca dan toko buku itu. Namun, akhirnya deheman sang pemilik tempat, memaksa mereka menutup komik, Chya mendahului. Setelah mengembalikan buku, mereka berjalan beriringan.
Saat berada di pintu keluar, tepat pada saat separuh badan Chya tak lagi berada di dalam ruangan, tanpa menoleh ia berkata,
“Aku selesai dengan Orion.”
Ditutup dengan senyum, Chya menyempurnakan dirinya untuk keluar dari toko itu. Zen menyusul dibelakangya. Aku tak bisa menggambarkan waktunya secara pasti, yang jelas saat ini Zen telah melingkarkan tangannya ke pinggang Chya dari belakang, seraya berkata,
“Backstreet?”
“Backstreet…”, jawab yang lain seraya mengukuhkan pelukan mereka dengan menggenggam tangan Zen.
“Forever.” Lanjut Chya.
“Forever.” Ulang Zen, bersamaan dengan padamnya lampu bangunan yang ada di belakang mereka. Tinggal bintang-bintang yang bertebaran dengan cemerlang menemani mereka.


By Melanie AliFf
30112006

Labels: , ,

0 comments

6:12 AM

12 August 2008


KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

0 comments

10:35 PM

It Passed Away


Cerita tentang mereka berdua yang hidup dalam satu cinta, namun tak pernah sekalipun menghargainya.
Dua sejoli itu saling suka, saling kagum, dan sama-sama menyadari keberadaan yang lainnya. Tapi ego mereka lebih mengambil peranan, jauh daripada hati mereka yang terbakar.
Tatapan mereka kembali beradu untuk ke sekian kali, namun untuk kesekian kali pula mereka mengecewakanku. Sang dara mengalihkannya. Sedang jaka, ia mengambil sikap. Menggeser tempat duduknya sedikit lebih dekat, mendekat ke gadis lainnya, membaurkan dirinya dalam keakraban yang lazim. Dara memutuskan hanya tersenyum kecut, menundukkan muka dan kembali membenamkan diri dalam kebimbangan yang tidak seharusnya. Mereka benar-benar membuatku semakin geram. Tidak adakah satu keberanianpun yang akan muncul dari mereka, untuk mewujudkan sebuah hubungan indah?
Hari lain, masa ini, dara dan jaka ini kembali berpandangan, berbalasan senyuman manis. Aku melihat ketulusan yang murni dalam empat mata itu. Jangan hentikan! Teruskan! Rangkailah awal cerita indah kalian.
Rupanya aku belum bisa berpuas hati untuk saat ini. Kembali mereka injak kesucian cinta mereka hanya karena suara pertama dari orang ketiga yang tiba-tiba membuat perhatian si jaka teralihkan. Dara mengalihkan pandangannya yang tak lagi berbalas, tenggelam dalam cemburu yang dibakar sang ego. Aku tak tahu harus berkoar apalagi tentang mereka. Aku benar-benar tak mengerti akan arah yang akan mereka tuju. Akankah mereka bertemu di satu titik, jika ego selalu menyetir mereka?
Kejengkelanku hari ini mengingatkanku tentang suatu hari, saat dara manis itu termenung, melayangkan lamunannya. Aku sungguh sangat tahu, saat itu, jaka-kalem itu pasti sangat ingin mendekatinya, menggenggam tangannya, menatap kedua matanya, lalu membantunya melepas beban di otak dara pujaannya. Namun jaka tak segera melaksanakan inginnya, yang aku rasa pasti akan jadi salah satu langkah terbesar dalam hubungan mereka. lalu apa yang ia lakukan saat itu? Ia tertunduk, memikirkan ulang keinginan hatinya, lama sekali. Makin lama ia berpikir, makin luruh niatnya, dan akhirnya ia lepaskan begitu saja kesempatan itu. Aku mengerti jika Si dara sama kecewanya denganku. Aku merasakannya, dara itu juga memimpikannya, kurasa ia juga akan berharap akan peduli jaka-nya. Untuk kesekian kali, lagi, aku kecewa atas mereka, kecewa atas perlakuan mereka pada cinta juga kelemahan mereka pada Sang ego.
Kulanjutkan ceritaku, saat ini, setelah pandangan mereka terputus oleh sapaan seorang gadis. Si gadis berhasil mengambil tatapan jaka manis itu. Mereka bertatapan. Cukup lama. Sedetik kemudian, aku dibuat gadis itu terlalu shock dan kaget oleh perkataanya saat ini. Berani sekali dia! Mengucapkan kata itu, kata yang sepanjang cerita kunantikan akan keluar dari mulut Sang jaka, untuk rembulannya, dara itu.
Kulihat jaka tak lebih terkejut dariku atas keberanian Si gadis. Laki-laki itu membuka sedikit bibirnya untuk membentuk senyum hormat, menghargai seorang gadis yang mencuri kata itu dari hak para lelaki. Sesaat kemudian, ia melirik ke arah dara-nya. Pandanganku kualihkan secepat kilat pada dara. Kali ini aku sangat berharap, betul-betul menginginkan Si dara untuk melakukan hal yang benar. Tolonglah! Cegah! Hentikan ini! Ini kesempatan terakhirmu! Berikan tanda padanya!
Bersamaan dengan tertunduknya wajah hawa itu, aku berteriak sangat keras dalam hati. Sirna harapanku padanya. Tapi masih ada sekali lagi kesempatan. Kualihkan pandangan ke Sang adam. Ia adalah kunci dari kisah ini. Keputusannya saat ini akan jadi titik tolak hubungan mereka. Ini kesempatan terakhir. Ayolah, kumohon! Aku berharap penuh padamu! Perhatikan benar-benar ekspresi dara-mu, ia takkan pernah rela kau diambil oleh gadis itu. Aku sadar, detik ini, tak ada yang bisa aku lakukan. Aku diam, menunggu dengan sangat cemas.
Tubuhku lemas seketika, saat arjuna itu meng-iyakan komitmen yang baru ditawarkan padanya. Selesai! Semua telah berakhir.
Inilah balasan untuk mereka yang tidak menghargai cinta.
Cinta akan menghilang, tanpa sempat dapat disesali.
Agungkanlah cinta sebisamu, sekuat hatimu. Jangan pernah biarkan sedikitpun ego memaksamu melepaskan cinta.



By Melanie AliFf
10112006

Labels: , ,

0 comments

6:41 AM

Finally Deja Vu




“Hey, pernah denger déjà vu ga?” Santi memulai pembicaraan pagi ini.
“O,ya.. aku juga pernah ngalamin, ketika mimpi kita jadi nyata kan!” Dona meneruskan. Kelihatannya topik ini bakal jadi menarik buat mereka, tapi nggak buat aku. Itu terlalu ga’ logis. Aku hanya duduk di salah satu sudut dari sekelompok gadis kelas 12 SMA, mendengarkan mereka mengoceh tentang déjà vu.
Aku sudah terlalu capek untuk melakoni kehidupan nyataku, dan aku tidak akan menyisakannya hanya untuk memikirkan kata-kata aneh itu.
“Tau ga’, percaya ga’ percaya, aku pernah mimpiin saat pertama kali aku jadian.” Santi mulai pamer. Gerumbulan gadis lainnya menimpalinya dengan decak tak percaya ditambah desah kagum.
Aku jadi ingat salah satu mimpiku, saat Faro, teman sekelasku ~yang sepertinya kusukai~ memintaku jadi pacarnya. Tapi AH, apa itu! Sudahlah jangan mulai percaya dengan hal seperti itu. Apa kamu nggak capek berurusan sama yang namanya cinta! Bayangkan, dari hampir sepuluh orang yang kusukai enam tahun belakangan ini, nggak ada satupun yang punya feel sama kayak aku.
Bel sekolah, tanda masuk, membubarkan genk gossip yang secara otodidak terbentuk pagi itu. Kelasku mulai penuh, keadaanpun menjadi tenang ketika pembimbing belajar kami hadir dan membuka pertemuan.
Pandanganku melayang ke bangku ke-2 dari meja guru. Seorang cowok yang duduk di sebelah kiri. Sepintas, ingatanku kembali melayang ke mimpi anehku. Terbayang ketika dia menduduki bangku di depanku. Dia berbalik dan memandangku lama, kubalas pandangannya, dia tak juga menghentikan tatapannya, hal itu tidak biasa. Kemudian tiba-tiba saja kata-kata ich liebe dich terucap dari mulutnya, dia tersenyum dan semuanya mendadak kabur, akhirnya kudapati diriku terbangun dari tidurku. Aku masih ingat dengan sangat jelas setiap detail dari mimpi yang mungkin paling kuharapkan.
Tak sadar, aku telah memandangnya lama, sejak aku mulai mengingat mimpiku. Diapun telah membalas tatapanku dengan penuh tanya. Lantas saja kualihkan pandanganku. Aku kembali bergumam. Berhentilah memikirkan itu, focus! Ingat, kamu kelas tiga. Toh, sebesar apa sih kemungkinan terjadinya mimpi itu, hampir nol persen! Kutenangkan kembali diriku, kubuang nafasku perlahan, kembali kufokuskan diriku ke tugasku hingga jam berakhir.
Pergantian pelajaran, sama artinya dengan moving class. Kembali kubuka senyumku dan mulai berceloteh usil, mengalihkan pikiranku, memfokuskannya ke hal lain. Pelajaran kali ini, dia, si Faro, duduk di depanku. Punggungnya terlihat begitu anggun, membuatku nyaman. Aku tidak bisa menjelaskannya secara logis, perasaan apa ini! Cinta memang tidak mengenal kata logis, pelajaran berlanjut. Setelah sekian waktu, kuselesaikan hari itu.
Kulihatnya menatapku saat itu, di kelas itu, hari itu, di penghujung minggu. Kali ini ia duduk di seberangku. Dia di sebelah kiri, bangku ke-2 dari depan, sedang aku sebelah kanan dalam urutan bangku yang sama namun satu deret lebih ke kiri darinya. Sejenak kuselami matanya, ingin kubaca apa yang ada dalam pikirannya. Kuharap ada aku di salah satunya. Sebelum aku puas menjelajahi matanya, ia memalingkan kedua bola matanya ke meja. Terlihat tangannya menggenggam type-x dan menorehkan sesuatu yang singkat. Seperti sebelumnya, kualihkan pandangan ke arah depan, dimana papan yang penuh menanti untuk disalin.
Kembali pelajaran berganti seiring bergantinya kelas. Aku beranjak, berdiri mengemas seluruh alat-alatku. Tanpa bermaksud sengaja, kulirik meja yang telah ditempatinya. Tak pernah terbayang, namakulah yang ia tuliskan. Aku yakin, walau disekitarnya tak sedikit coretan stipo lainnya. Senyumku tipis menggaris, walau aku tak tahu pasti harus merasa apa, yang jelas nafasku tiba-tiba terasa sedikit sesak.
Dalam setapak ke kelas lainnya, dia, Faro berjalan beriringan dengan seorang gadis, juga tak beda kelas dengannya, denganku. selalu seperti itu, berjalan berdampingan dengan lawan jenisnya, tak selalu dengan orang yang sama, membuatku kembali berpikir aku bukan satu-satunya, memberikanku pilihan untuk mundur teratur.
Kulangkahkan kakiku memasuki kelas berikutnya, kali ini, sekali lagi dia duduk di depanku. Sepuluh menit telah lewat, sang guru yang tak kunjung datang telah digantikan oleh guru piket yang seperti biasa membawakan tugas sebagai ganti ketidakhadiran Sang guru. Dan setelah selesai menunaikan tugasnya, Sang guru piketpun meninggalkan kami, akan selalu seperti itu. Kubuka buku tugasku, kutelaah soal yang ada di depanku. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak, kuacuhkan itu. Kulanjutkan menarikan penaku ke atas lembar buku yang masih putih. Walau kuacuhkan, perasaan janggal itu tak henti kembali. Apa ini? Perasaan macam apa ini! Aneh, tapi aku merasa nyaman dan seakan tak asing dengan ini. Sementara lain, aku merasa ada sepasang mata mengawasiku, kuberanikan untuk mendongak. Entah mengapa aku langsung tahu asal pemilik mata itu.
Di depanku, Faro telah memutar badannya, dia telah memandangku lama, kembali kuterhenyak, otakku memaksa untuk mengingat waktu ini, seakan aku pernah mengalaminya. Kubalas pandangannya, dia tak juga menghentikan tatapannya, HAL ITU TIDAK BIASA! Mulutnya terbuka, dan yang terdengar olehku, I love you, would you be mine?
Tersentak kuteringat saat itu.
Aku membisu, terhenyak, menelan semua kelogisanku. Dia mengulanginya, “Aku suka kamu, mau jadi pacarku?”
Kutersadar, berpikir, jawaban apa yang akan jadi berkesan untuk sesuatu yang baru dalam enam tahun terakhirku.
Akhirnya kuminta tenggang waktu, kuulur masa, seperti yang beberapa gadis lakukan di situasi sama. Dia tersenyum mengiyakan, memperbolehkanku memikirkan hal yang hanya punya satu jawaban, tak lain dan tak bukan, jawaban YA!
Dia membalik tubuhnya, menghadapkannya kembali ke mejanya. Kusadari begitu gaduh dan ramai keadaan dalam kelasku, menyoraki-ku, meneriaki kita.
Senyumku mengembang sedikit lebih lebar, kuhembuskan udara terlega dan nyamanku yang pertama setelah dua hari ini. Kuistirahatkan punggungku di sandaran kursiku, seraya melipat tanganku di depan dada. Senyumku belum juga memudar. Dalam hati aku berkata,
finally, déjà vu!


By Melanie AliFf
19092006

Labels: , ,

0 comments

6:33 AM

Free Web Counters

Owner.

Image Hosted by ImageShack.us

Meet me,

Welcome here,

Walaupun menulis adalah salah satu passionku, tapi menurutku, aku sama sekali tidak produktif. Semoga dengan kupublikasikan tulisanku, produktivitas dan kualitas tulisanku akan jauh meningkat.. Apapun pikiran, pendapat, atau celaan kalian, AKU MOHON, share-in sama aku ya.. Makasih...

music.

Lagu ini pas banget buat jadi "wake up" song, biar hari jadi lebih semangat

Kalo mau download, dibawah lirik ada link nya



Click to get mp3

Buddies.

PSYDOJOEsite

Human vs. Cockroach

Tips for your PC

Me at Friendster

Icha Gede

Uthe'

Khey

Punya Mob-Mob

Vault.

August 2008 September 2008 December 2008 February 2009

thanks.

Layout by BAKEDPOTATOE, with help from sm3no for the image and fonts, Print Dashed and Violation.