Finally Deja Vu

12 August 2008




“Hey, pernah denger déjà vu ga?” Santi memulai pembicaraan pagi ini.
“O,ya.. aku juga pernah ngalamin, ketika mimpi kita jadi nyata kan!” Dona meneruskan. Kelihatannya topik ini bakal jadi menarik buat mereka, tapi nggak buat aku. Itu terlalu ga’ logis. Aku hanya duduk di salah satu sudut dari sekelompok gadis kelas 12 SMA, mendengarkan mereka mengoceh tentang déjà vu.
Aku sudah terlalu capek untuk melakoni kehidupan nyataku, dan aku tidak akan menyisakannya hanya untuk memikirkan kata-kata aneh itu.
“Tau ga’, percaya ga’ percaya, aku pernah mimpiin saat pertama kali aku jadian.” Santi mulai pamer. Gerumbulan gadis lainnya menimpalinya dengan decak tak percaya ditambah desah kagum.
Aku jadi ingat salah satu mimpiku, saat Faro, teman sekelasku ~yang sepertinya kusukai~ memintaku jadi pacarnya. Tapi AH, apa itu! Sudahlah jangan mulai percaya dengan hal seperti itu. Apa kamu nggak capek berurusan sama yang namanya cinta! Bayangkan, dari hampir sepuluh orang yang kusukai enam tahun belakangan ini, nggak ada satupun yang punya feel sama kayak aku.
Bel sekolah, tanda masuk, membubarkan genk gossip yang secara otodidak terbentuk pagi itu. Kelasku mulai penuh, keadaanpun menjadi tenang ketika pembimbing belajar kami hadir dan membuka pertemuan.
Pandanganku melayang ke bangku ke-2 dari meja guru. Seorang cowok yang duduk di sebelah kiri. Sepintas, ingatanku kembali melayang ke mimpi anehku. Terbayang ketika dia menduduki bangku di depanku. Dia berbalik dan memandangku lama, kubalas pandangannya, dia tak juga menghentikan tatapannya, hal itu tidak biasa. Kemudian tiba-tiba saja kata-kata ich liebe dich terucap dari mulutnya, dia tersenyum dan semuanya mendadak kabur, akhirnya kudapati diriku terbangun dari tidurku. Aku masih ingat dengan sangat jelas setiap detail dari mimpi yang mungkin paling kuharapkan.
Tak sadar, aku telah memandangnya lama, sejak aku mulai mengingat mimpiku. Diapun telah membalas tatapanku dengan penuh tanya. Lantas saja kualihkan pandanganku. Aku kembali bergumam. Berhentilah memikirkan itu, focus! Ingat, kamu kelas tiga. Toh, sebesar apa sih kemungkinan terjadinya mimpi itu, hampir nol persen! Kutenangkan kembali diriku, kubuang nafasku perlahan, kembali kufokuskan diriku ke tugasku hingga jam berakhir.
Pergantian pelajaran, sama artinya dengan moving class. Kembali kubuka senyumku dan mulai berceloteh usil, mengalihkan pikiranku, memfokuskannya ke hal lain. Pelajaran kali ini, dia, si Faro, duduk di depanku. Punggungnya terlihat begitu anggun, membuatku nyaman. Aku tidak bisa menjelaskannya secara logis, perasaan apa ini! Cinta memang tidak mengenal kata logis, pelajaran berlanjut. Setelah sekian waktu, kuselesaikan hari itu.
Kulihatnya menatapku saat itu, di kelas itu, hari itu, di penghujung minggu. Kali ini ia duduk di seberangku. Dia di sebelah kiri, bangku ke-2 dari depan, sedang aku sebelah kanan dalam urutan bangku yang sama namun satu deret lebih ke kiri darinya. Sejenak kuselami matanya, ingin kubaca apa yang ada dalam pikirannya. Kuharap ada aku di salah satunya. Sebelum aku puas menjelajahi matanya, ia memalingkan kedua bola matanya ke meja. Terlihat tangannya menggenggam type-x dan menorehkan sesuatu yang singkat. Seperti sebelumnya, kualihkan pandangan ke arah depan, dimana papan yang penuh menanti untuk disalin.
Kembali pelajaran berganti seiring bergantinya kelas. Aku beranjak, berdiri mengemas seluruh alat-alatku. Tanpa bermaksud sengaja, kulirik meja yang telah ditempatinya. Tak pernah terbayang, namakulah yang ia tuliskan. Aku yakin, walau disekitarnya tak sedikit coretan stipo lainnya. Senyumku tipis menggaris, walau aku tak tahu pasti harus merasa apa, yang jelas nafasku tiba-tiba terasa sedikit sesak.
Dalam setapak ke kelas lainnya, dia, Faro berjalan beriringan dengan seorang gadis, juga tak beda kelas dengannya, denganku. selalu seperti itu, berjalan berdampingan dengan lawan jenisnya, tak selalu dengan orang yang sama, membuatku kembali berpikir aku bukan satu-satunya, memberikanku pilihan untuk mundur teratur.
Kulangkahkan kakiku memasuki kelas berikutnya, kali ini, sekali lagi dia duduk di depanku. Sepuluh menit telah lewat, sang guru yang tak kunjung datang telah digantikan oleh guru piket yang seperti biasa membawakan tugas sebagai ganti ketidakhadiran Sang guru. Dan setelah selesai menunaikan tugasnya, Sang guru piketpun meninggalkan kami, akan selalu seperti itu. Kubuka buku tugasku, kutelaah soal yang ada di depanku. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak, kuacuhkan itu. Kulanjutkan menarikan penaku ke atas lembar buku yang masih putih. Walau kuacuhkan, perasaan janggal itu tak henti kembali. Apa ini? Perasaan macam apa ini! Aneh, tapi aku merasa nyaman dan seakan tak asing dengan ini. Sementara lain, aku merasa ada sepasang mata mengawasiku, kuberanikan untuk mendongak. Entah mengapa aku langsung tahu asal pemilik mata itu.
Di depanku, Faro telah memutar badannya, dia telah memandangku lama, kembali kuterhenyak, otakku memaksa untuk mengingat waktu ini, seakan aku pernah mengalaminya. Kubalas pandangannya, dia tak juga menghentikan tatapannya, HAL ITU TIDAK BIASA! Mulutnya terbuka, dan yang terdengar olehku, I love you, would you be mine?
Tersentak kuteringat saat itu.
Aku membisu, terhenyak, menelan semua kelogisanku. Dia mengulanginya, “Aku suka kamu, mau jadi pacarku?”
Kutersadar, berpikir, jawaban apa yang akan jadi berkesan untuk sesuatu yang baru dalam enam tahun terakhirku.
Akhirnya kuminta tenggang waktu, kuulur masa, seperti yang beberapa gadis lakukan di situasi sama. Dia tersenyum mengiyakan, memperbolehkanku memikirkan hal yang hanya punya satu jawaban, tak lain dan tak bukan, jawaban YA!
Dia membalik tubuhnya, menghadapkannya kembali ke mejanya. Kusadari begitu gaduh dan ramai keadaan dalam kelasku, menyoraki-ku, meneriaki kita.
Senyumku mengembang sedikit lebih lebar, kuhembuskan udara terlega dan nyamanku yang pertama setelah dua hari ini. Kuistirahatkan punggungku di sandaran kursiku, seraya melipat tanganku di depan dada. Senyumku belum juga memudar. Dalam hati aku berkata,
finally, déjà vu!


By Melanie AliFf
19092006

Labels: , ,

0 comments

6:33 AM

Free Web Counters

Owner.

Image Hosted by ImageShack.us

Meet me,

Welcome here,

Walaupun menulis adalah salah satu passionku, tapi menurutku, aku sama sekali tidak produktif. Semoga dengan kupublikasikan tulisanku, produktivitas dan kualitas tulisanku akan jauh meningkat.. Apapun pikiran, pendapat, atau celaan kalian, AKU MOHON, share-in sama aku ya.. Makasih...

music.

Lagu ini pas banget buat jadi "wake up" song, biar hari jadi lebih semangat

Kalo mau download, dibawah lirik ada link nya



Click to get mp3

Buddies.

PSYDOJOEsite

Human vs. Cockroach

Tips for your PC

Me at Friendster

Icha Gede

Uthe'

Khey

Punya Mob-Mob

Vault.

August 2008 September 2008 December 2008 February 2009 January 2011

thanks.

Layout by BAKEDPOTATOE, with help from sm3no for the image and fonts, Print Dashed and Violation.