Second First-Step

07 December 2008



 

Lorong ini mengawalinya,

Kataku padanya.

Tepat di tempat itu Aprodhite menyerah dari bujukan Hazel. Terkesan dari jawabannya yang cenderung mengambang,

“Kita coba dulu, ya?”

“Sampai kapan?”

“Waktu yang bakalan njawab.”

Hazel hanya meng-iyakan statement Dhite’ dengan dahinya yang mengerenyit seraya mengangkat bahunya.

Mereka berjalan hampir beriringan, sampai saat Hazel menarik tangan Dhite’yang berjalan selangkah di depannya. Mereka terhenti. Genggaman tangan Hazel membawa Aprodhite ke tembok terdekat. Pelan, jarak mereka semakin mendekat. Insting defence Si gadis berfungsi. Hatinya merasa sesuatu yang berbeda terjadi. Hazel terus mendekat, terus, hingga tangan yang lainnya menggenggam pasangannya dan memojokkannya ke tembok. Aprodhite semakin yakin akan instingnya. Ia membela dirinya,

“Hez,” “Hezo,”  “Hazel!”

Ia merasa terpojok, pembelaan dirinya meluap.

Cuh!

Ludah meluncur langsung ke muka Hazel. Sedetik setelahnya tamparan melengkapkannya. Belum cukup dengan itu, Gadis 18 tahun itu melingkarkan tangan kirinya ke leher lawannya, sedangkan tangan lainnya mengepalkan tinju. Pria di depanya, di dorongnya ke tembok yang lain.

“Kamu anggap aku apa Hez! Ow, jangan-jangan ini yang kamu maksud dengan mengerti aku? Kalau ini yang kamu cari, silakan incar korbanmu yang lain!”

Dilepaskannya genggaman tangannya dari leher Hazel dan beranjak menjauh, meninggalkannya sendirian. Baru beberapa langkah, ia berhenti, berbalik.

“Kalau ada sesuatu yang aku omongkan ke Tuhan, aku cuma ingin bilang, thanks God, ini cuma masa percobaan. Since now, there’s no more Hezo and Dhite’. It’s Over, Zo!”

It’s over, Zo!

Makin lama frase itu semakin keras dan berakhir serupa lengkingan.

Kriiiinggggg

“Hah!” Sentakan suara itu diiringi hela nafas yang terburu-buru. Hazel tersentak dari tidurnya, ia terduduk setengah membungkuk. Keringatnya mengucur. Sejenak ia menggenapkan jiwanya yang belum utuh. Semenit kemudian, ia menoleh ke arah jam wekernya. Jam menunjukkan tepat pukul sembilan, padahal seharusnya sejam sebelumnya ia harus sudah hadir dalam kelas. Ia lupa men-set ulang alarmnya. Ia tak sempat mengumpat, sesuatu yang biasa ia lakukan. Kepala Hazel terlalu penuh, ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri sekenanya.

Suara sepasang langkah sepatu terdengar cepat, Hazel masih ingin mengejar jamnya yang telah lewat 70 menit. Pasalnya, ini kesempatan minimalnya untuk ikut mata kuliah ini, atau ia terancam melewatkan UTS. Dibukanya pintu kelas sebelum ia sempat menstabilkan nafasnya yang terengah-engah. Apa yang didapatkannya,

“Saudara terlambat berapa menit? Silakan saudara menghabiskan jam kuliah ini dengan menunggu di luar!”

Seisi ruangan menoleh padanya, tak terkecuali, merespon nada keras dari Sang Dosen. Menjawab itu, matanya yang masih berkantung semakin sayu, dengan senyum hormat ia menutup kembali pintu ruangan itu. Langkahnya gontai mencari tempat bersandar terdekat, di kursi itu lamunannya melambung, bersamaan dengan melayangnya kesempatannya untuk lulus mata kuliah yang telah ia lewatkan empat kali. Namun, bukan itu fokusnya saat ini, lamunannya mundur ke mimpinya. Tiga minggu ini telah ia lewati dengan mimpi yang sama. Ia sandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memposisikannya senyaman mungkin. Ia terus saja menyalahkan dirinya, sejak hari itu.

Apa sih yang membuatku sekotor itu! Ck! Gimana aku harus minta maaf ke Dhite’? liat dia aja, aku butuh tiga perempat nyawaku. Fuih!

Ia menegakkan badannya, merogoh saku bajunya, mengambil sebatang rokok, menyalakannya, dan kembali bersandar. Baru separuh batang ia hisap, ia beranjak, berniat menghindar dari pertanyaan teman-temannya yang beberapa menit lagi menyelesaikan jam kuliah mereka. Juga kemungkinan untuk menatap Dhite’ dengan pandangan bersalah. Ia berniat meninggalkan kampus, pergi ke tempat yang dapat membawanya sejenak jauh dari masalahnya yang setumpuk.

Menuju ke tempat memarkir avanza hitamnya, terlihat tak ada yang salah dengannya. Tatapannya lurus ke depan, langkahnyapun pasti, tetapi pikirannya benar-benar melayang. Terbukti!

Ddiiinnn!

“Heh! Jalan yang bener dong! Kamu pikir ini parkiran Moyangmu!”

Seorang pengendara mobil memakinya. Dengan mata sinisnya, ia hanya menoleh sebentar pada pengendara itu lalu memunggunginya sambil mengacungkan dua jari tengahnya tinggi-tinggi. Tak terlalu jauh dari tempatnya memarkir mobil, ia matikan alarm mobilnya. Baru saja ia hendak memasuki pintu sopir, sebuah suara menghentikannya.

“Hazel! Dasar! Kamu memang nggak bisa diajak ngomong baik-baik, ya! Mama nggak ngijinin kamu bawa’ mobil ke kampus kan, sebelum kamu jadi anak yang bener! Itu perjanjian kita kemarin!”

Hazel mendengus, ia tersenyum kecut. Terang saja ia tak pernah tahu. Malam itu, ketika mamanya mulai berceloteh tentang KHSnya, ia mengunci diri di dalam kamar sembari mengeraskan volume mp3 yang tertancap di telinganya. Itu juga sebab mengapa ia tak sempat mengatur ulang alarm wekernya. Wanita paruh-baya yang baru saja turun dari taksi itu mendekat seraya merebut kunci mobil yang dipegang Hazel. Tanpa perlawanan ia lepaskan kunci itu. Mobil itu meninggalkannya. Seseorang memperhatikannya dari jauh.

Ia masih terpaku di sana, memainkan wajahnya, masih dengan pandangan kosong. Lalu, ia berbalik arah kembali ke arah kampus. Langkahnya terhenti tepat di tempat itu, tempat semua tentang Hazel dan dia memulainya. Tanpa kesadaran penuh ia mengambil tempat di salah satu bangku. Beberapa orang melewatinya begitu saja. Bangku-bangku kosong di kiri-kanannya mulai terisi, hingga bangku sebelahnyapun terisi orang. Hazel tak bergeming, pikiran kosongnya masih penuh dengan berbagai masalahnya. Seorang di sebelahnya mengeluarkan sebuah novel, mulai membacanya, sesaat kemudian ia bersuara,

“Pundakku masih boleh dipinjem kok.”

Hazel, pupil matanya kembali hidup, ia mengenali suara itu. Ia menoleh, memastikan prasangkanya. Benar saja, Dhite’ duduk tepat di sebelah kanannya. Rasa kagetnya tak keluar, tertahan di tenggorokannya. Sejenak ia meluruskan tangannya ke meja di depannya seraya menelungkupkan kepala tepat di atasnya, lalu ia tegakkan kembali tubuhnya. Dengan segera tetapi perlahan, ia jatuhkan kepalanya ke pundak Wanita yang memenuhi kepalanya hampir sebulan terakhir. Satu kakinya diangkat ke atas bangku, menyamankan posisinya. Tangannya terlipat di depan dadanya. Memejamkan matanya. Rasanya bebas, diselingi semilir angin yang turut membawa aroma parfum khas Mantan pre-girlfriendnya, semakin meringankannya. Semua berangsur melenyap, semua yang memberatkannya dewasa ini. Dengan tetap terpejam, ia berkata,

“Kalau ada yang ingin kuucapkan ke Tuhanku, it must be,” “Thanks God, for giving me the time just to meet with someone like you.”

Hazel bangun, menegakkan badannya, sekali lagi ia mencoba,

“Aku tidak pernah berhak untuk menanyakan hal ini lagi ke Kamu. Aku cuma mau dengar pendapatmu. Layakkah aku dapat kesempatan ke-dua?”

“Kita coba dulu, ya?”

“Sampai kapan?”

“Waktu yang bakalan njawab.”

Kali ini Hazel benar-benar mengerti dan sepenuhnya meng-iyakan statement Dhite’. Ditutup dengan senyum lepas yang hangat untuk wanita di depannya.

Lorong ini kembali mengawalinya,

Kataku padanya.

 

 

By Melanie AliFf

29092007

 

 

Labels: , ,

0 comments

6:41 PM

Free Web Counters

Owner.

Image Hosted by ImageShack.us

Meet me,

Welcome here,

Walaupun menulis adalah salah satu passionku, tapi menurutku, aku sama sekali tidak produktif. Semoga dengan kupublikasikan tulisanku, produktivitas dan kualitas tulisanku akan jauh meningkat.. Apapun pikiran, pendapat, atau celaan kalian, AKU MOHON, share-in sama aku ya.. Makasih...

music.

Lagu ini pas banget buat jadi "wake up" song, biar hari jadi lebih semangat

Kalo mau download, dibawah lirik ada link nya



Click to get mp3

Buddies.

PSYDOJOEsite

Human vs. Cockroach

Tips for your PC

Me at Friendster

Icha Gede

Uthe'

Khey

Punya Mob-Mob

Vault.

August 2008 September 2008 December 2008 February 2009 January 2011

thanks.

Layout by BAKEDPOTATOE, with help from sm3no for the image and fonts, Print Dashed and Violation.