Tak Ada Sesalku Untukmu
04 December 2008
..S’lamanya, kan ku jaga dirimu, seperti kapas putih dihatiku, takkan ku buat noda...
Alunan lagu itu berarti baginya, lebih dari sebelumnya. Lagu inilah yang melatarbelakangi malam itu, ketika Mithe, sahabat baiknya menangis di hadapannya. Ia tak pernah menyangka, Mithe akan berada sejauh itu.
Sampai hari ini pun Jimmy masih belum percaya jika Mithe mengaku terlanjur berbadan dua padanya. Memang ia sempat merasa berat ketika Mithe mengaku telah jadian dengan laki-laki itu, tapi ia benar-benar tidak pernah menyangka akan berakhir pada titik ini. Rokok, barang yang tak pernah ia sentuh selama ini agaknya menjadi saksi kegundahan hatinya. Sore itu ia menatap segerombolan anak kecil yang memainkan bola di tanah lapang. ia bersandar di thundernya, asap mengepul dari mulutnya. Di satu sisi Jimmy menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dia tidak pernah memperingatkan Mithe sebelumnya? Mengapa dia lebih takut dianggap over protective daripada menyelamatkan seoarang sahabat yang paling dia cintai?
HPnya berdering. Tanpa melihat nama si pemanggil ia mengangkatnya. Cukup lama ia diam, ia tahu, diseberang sana ada sahabatnya. Ia masih menunggu sahabatnya membuka pembicaraan.
Ssk..
Sebuah suara terdengar. Jimmy menganggap isakan itu membuka pembicaraan mereka.
“Kamu di mana?”
“Di kos.” Mithe menahan sebisa mungkin agar terdengar tegar.
“Jangan ke mana-mana!”
Tiit!
“Jim. Jimmy?” kata itu tak mungkin terdengar oleh Jimmy. Jimmy memutus pembicaraan, dan segera menstarter sepeda motornya, meninggalkan gerombolan anak-anak itu. Tak lama, ia telah berhenti di depan sebuah pintu. Tanpa mengetuk, Mithe keluar, menyambut suara mesin yang telah dihafalnya. Matanya jelas terlihat sembab. Keduanya duduk.
“Jim.” ssk.. “Aku harus gimana?” ssk, ssk..”A..Aku,” Kata-katanya terputus putus, Mithe mulai menangis.
“Siapa saja yang sudah tahu masalah ini?”
“Kamu, cuma ke kamu.” Jawab Mithe yang berusaha menstabilkan emosinya.
“Aku dan cowokmu aja, kan! Yang tahu masalah ini.”
Mithe menggeleng, “Kamu, cuma ke kamu, Jim.”
“Jadi cowokmu sendiri juga belum tahu?” Nadanya sedikit meninggi
“Aku tahu dia, Jim! Dia, dia, nggak akan mau...” Mithe tak kuat menyelesaikan kalimatnya, tangisannya kembali tak tertahan.
Jimmy memeluk Mithe, mendekapnya hangat.
“Jangan ditahan!”
Mithe menurutinya, Mithe menangis keras dalam pelukan Jimmy, dari luar hanya terdengar serupa gumaman pelan. Cukup lama hingga tangisan Mithe mereda. Mithe melepaskan pelukan. Baju Jimmy basah, terlalu basah untuk ukuran keringat. Ini kali kedua Mithe menangis di pelukannya. Setiap kali Mithe hanyut dalam perasaan menyesalnya, dekapan Jimmy-lah satu-satunya penenang baginya. Usai menutup pembicaraan, mereka kembali ke tempat mereka masing-masing. Mithe yang nampak lebih segar dari sebelumnya, masuk ke dalam indekosnya. Jimmy, memacu sepeda motornya, kembali ke rumah.
Sejak kembali dari kos Mithe, sampai saat ini, Jimmy hanya memainkan bolpoinnya serta membiarkan buku-buku pelajarannya terbuka begitu saja. Padahal, besok adalah hari pertamanya menghadapi UAS. Walaupun ini semester awal bagi seorang mahasiswa, tapi Jimmy telah bertekad untuk segera meraih gelar SH-nya. Ia bahkan telah menetapkan target IP yang tinggi. Ia harus belajar ekstra keras. Ia ingin membuktikan pada keluarganya bahwa ia akan sukses menjadi pengacara dan membuktikan keputusannya menolak tawaran bergabung di perusahaan keluarga adalah benar. Ia sempat diremehkan, setelah 2 tahun sebelumnya ia sempat gagal menyelesaikan pendidikannya di fakultas psikologi.
Ia berdiri, menuju kamar mandi, ia berwudhu, dan melepaskan bebannya pada Sang Pencipta. Setelah sembahyang, ia terlihat lebih segar. Kembali Jimmy duduk di hadapan buku-bukunya, tetapi kali ini ia siap melahap seluruhnya.
Setelah tidur cukup malam itu, Jimmy nampak sangat siap menghadapi kumpulan soal yang akan menentukan nasibnya di lembar KHS nantinya. Tidak ada yang ia ingat selain apa yang telah ia pelajari semalam dan tekadnya untuk lulus cepat. Langkahnya mantap menuju ruang ujian. Naskah telah dibagikan, ujian dimulai.
Bbbrrrrttt.. bbrrrttt..
Sebuah handphone bergetar di atas meja. Jimmy benar-benar melupakan semua hal yang tidak berkaitan dengan ujiannya hari ini. HPnya tertinggal.
Bbbrrt.. bbrrtt..
Handphone itu kembali bergetar.
“Jim.. Kamu dimana?” Sebuah suara terdengar sangat cemas, bergetar, sang pemilik suara menahan tangisnya.
“Jim, angkat dong.”
“Please Jim, tolong angkat!”
Si penelpon menyerah, telpon terakhirnya hanya dijawab oleh layanan operator.
Ujian selesai.
Jimmy puas dengan hasil kerjanya, ia keluar dari uang ujian dengan wajah sumringah. Langkahnya untuk keluar dari koridor kampus, terhenti oleh sapaan temannya dari belakang.
“Jim, ada telepon buat kamu nih! HP-mu ketinggalan, kan?”
“Dari siapa?” Jimmy menjawab.
“Dari temenku yang se-kos sama Mithe.”
Deg!
Jantung Jimmy seakan berdetak hanya sekali. Ia tahu, sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
“Halo..” Jimmy membuka percakapan.
“Halo, ini Jimmy ya? Jim, kamu cepetan ke rumah sakit. Mithe, dia coba-coba untuk bunuh diri!”
Pandangan Jimmy mendadak kosong. Seakan tak ada waktu untuk syok, Jimmy segera sadar dan memacu sepeda motornya sekencang mungkin, secepatnya menemui Mithe. Dalam otaknya semuanya bercampur menjadi satu. Bagaimana keadaan Mithe, apa yang ada di pikiran Mithe, mengapa ia bisa lupa pada Mithe, semuanya bercampur.
Ia berlari menuju instalasi gawat darurat, sesampainya di rumah sakit tersebut. Disana ia di sambut orang yang menelponnya tadi.
“Mithe baru aja sadar. Selain namamu yang disebut, dia cuma nangis.”
Jimmy menapak lambat, membuka kirab yang menghalanginya menatap Mithe secara langsung. Jimmy melirik pergelangan tangan Mithe, dan itu cukup menjawab.
“Mithe, kenapa harus kayak gini! Maafin aku, Mit!” Jimmy memeluk Mithe dengan sangat hati-hati.
“Bu-kan sa-lah-mu, Jim! A-ku a-ja yang nggak ku-at.” Jawaban mithe terpotong-potong.
Dengan menggenggam tangan Mithe, Jimmy terdiam agak lama sebelum akhirnya pecahlah kalimat itu,
“Mit, will you marry me?”
Mithe tersentak mendengar kata itu, “Kamu ngo-mong apa sih, Jim?” kalimat Mithe terdengar lebih padu, walaupun masih cukup lirih.
“Iya Mit, kamu mau jadi istriku?” Jimmy melepaskan cincin yang ada di jarinya dan memasangkannya ke jari Mithe, sebagai simbol keseriusan hatinya.
“Apa-an sih, Jim!” Jawabannya yang seakan tak setuju, tak membuat jari manisnya menolak cincin Jimmy.
Jimmy mencium kening Mithe, lama. Hingga Mithe terlelap dalam senyum.
Walau cincin itu tak pernah pas di jari manis Mithe, tetapi jauh di dalam hati Jimmy, ia tahu inilah jalan yang paling pas untuk mereka. Jimmy tak ingin menyesal lagi di hari yang lain. Dia tak akan menyesal untuk menunda planning lulus-cepatnya, dan menerima tawaran orang tuanya untuk bekerja di perusahaan keluarga, demi seorang wanita di depannya, seorang calon ibu.
By A. Maulani
Dec 15th, 2007 — 1:16
Labels: MBA, pengorbanan, sahabat, sex bebas
0 comments
6:22 AM
Owner.
Meet me,
Welcome here,
Walaupun menulis adalah salah satu passionku, tapi menurutku, aku sama sekali tidak produktif. Semoga dengan kupublikasikan tulisanku, produktivitas dan kualitas tulisanku akan jauh meningkat.. Apapun pikiran, pendapat, atau celaan kalian, AKU MOHON, share-in sama aku ya.. Makasih...
music.
Lagu ini pas banget buat jadi "wake up" song, biar hari jadi lebih semangat
Kalo mau download, dibawah lirik ada link nya
Buddies.
Vault.
August 2008 September 2008 December 2008 February 2009 January 2011
thanks.
Layout by BAKEDPOTATOE, with help from sm3no for the image and fonts, Print Dashed and Violation.