You, Smile A Bit
07 December 2008
“Me, Me! Dasar, bocah ini. Nggak ada yang laen apa! Ngelamun kok nggak kenal musim.”
Ame menggariskan senyum simpul.
“Liat aku sekarang!” “Ini aku, Rastari.” “Ngelamun nggak bikin kamu sampe’ lupa ingatan,
Sekali lagi Ame tersenyum simpul.
“Gimana nih, dialog kita? Waktu kita nggak banyak. Kamu mau berhadapan sama Pak Johar!”
“Baru ditinggal ngelamun aja udah segitu sewotnya, apalagi entar setelah kita lulus. You can’t live without me.” “Sini, udah ada ide dikit nih! Kalo’ stuck, ntar terusin ya!” Ame mengambil alih kertas di hadapan Rastari.
Seorang cowok, Diko, menghampiri meja dua teman beda gendernya dari depan, di depan Rastari.
“Ras, ntar pelaj..” Belum selesai bertanya, jawaban telah meluncur,
“BIO!” Rastari hafal, kelihatannya pertanyaan itu sudah jadi tradisi Diko.
“Wuih, sakti juga kamu!”
Rastari tersenyum cukup bijak.
“Heh! Kamu Cuma punya kata-kata itu doang ya? ‘ntar pelajaran apa?’ kelihatannya ‘Tuan’mu nggak berhasil ndidik kamu jadi beo yang baik ya!” Sahut Ame seceplosnya.
“Sakti dari Hongkong, dia aja yang nggak sadar kalo’ cuma bisa ngomong empat kata itu.” Gerutu Ame, yang disambut elusan tangan Rasta di punggungnya.
“Kamu kok ketus sih jadi cewek. Ntar nggak dapet-dapet cowok lho!” Diko balas mengomentari.
Ame berkomat-kamit, mengikuti kata-kata Diko, ekspresinya jelas mengejek. Ia memang selalu sewot setiap Diko memulai pembicaraan dengan Rastari.
Setelah Diko meninggalkan mereka ~karena menganggap tak ada yang harus diteruskan~ Rasta mengambil alih,
“Ampun deh Me! Kamu nggak bisa ya, alus dikit sama Diko? Kamu punya dendam dari reinkarnasi sebelumnya ya!”
“Rasta! Plis deh. Kamu nggak bisa naikin grade kamu? Masa’ cowok kayak gitu yang kamu suka? Yang bener aja! Di luar
“Syyh!” Rastari celingukan, berdoa semoga tidak ada yang memiliki pendengaran super di sekitar mereka. “Jangan gitu ah! Eh, ntar kamu bisa kena karma lho!”
Ame melengos acuh, namun angannya segera melayang.
Karma, ya. Diko sama sekali bukan tipe-ku sih, tapi gimana jadinya kalo’ Ame sama Diko jadian. Lucu kali yee..
Nyegirnya terbentuk.
Tapi gimana kalo’ beneran ya.
Mck, aku kok jadi mikirin sih! Aduh, gara-gara Rasta nih!
“Ras, udah stuck nih, terusin ya!” ame beranjak dari bangkunya.
“Mau kemana kamu?”
Jawaban Ame hanya lengkungan senyum dan lambaian tanggan pada temannya. Rasta tersenyum maklum.
Langkah Ame terhenti di pintu masuk kelas. Menerawang ke awan siang itu.
‘Ckrik’
Suara jepretan kamera pelan terdengar, bersumber dari sebuah HP di meja terdepan, urutan kedua dari pintu kelas. Cowok Si empunya HP, sebentar menelaah objek fotonya yang hanya menampakkan tampak-belakang seorang gadis. Sebentar setelahnya, pensil 2B-nya mulai menggores garis-garis tipis di atas kertas. Dengan cepat, garis-garis tipis yang berulang kali ia torehkan mulai jelas. Terbentuklah gambar yang serupa dengan foto yang tadi diambilnya dan baru saja dihapusnya. Terlihat ia sudah hafal dengan setiap lekuk objeknya, sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Di ujung bawah lukisannya ia tuliskan 040507. ditambah kalimat kecil ‘I almost see the real you. Your back tell me everythimg, Sugar”
Segera ia memasukkan karya terbarunya ke map hijau berhalamankan wadah plastik-plastik tipis. Ia menyisipkannya ke halaman plastik kosong terdekat. Terpampang karya-karya serupa di halaman sebelumnya, mungkin objek yang sama. Sekelibat terbaca kalimat-kalimat puitis di setiap pojok lukisannya.
‘If there’s a thing sweeter than honey, it must be you’
‘They thought you scary, but I know you’re beauty’
‘When the time’s coming, your smile will be mine’
‘I catch your tears’
dan belasan kata-kata manis lainnya yang dibackgroundni dengan ekspresi yang beragam. Sesaat ia terhenti pada gambarnya yang melukiskan seorang gadis yang tengah memejamkan matanya, ditemani air mata yang meleleh di pipinya. Ia mengingat hari itu.
“Dik!” Sebuah sapaan merusak segalanya. Detak jantung Diko tiba-tiba berdetak jauh lebih kencang. Seorang teman mengagetkannya. Ia membereskan mapnya dan menempatkannya kembali ke dalam tasnya.
“Ntar jadi nyewa studio yang mana?”
“Waduh, ntar aku ada les tuh! Kalo’ mau ngeband ntar Minggu aja!” Jawab Diko sambil menstabilkan irama jantungnya, berusaha terlihat tenang.
Kurang 1 meter lagi Ame memasuki gerbang LBBnya, sore itu. Di teras LBB tergambar keadaan yang cukup ramai. Siswa yang masuk-siang baru saja selesai, disusul siswa jam selanjutnya.
Ame melihat seseorang yang dikenalnya, membelakanginya,
“Ras-tari” ia mengurangi volume sapaannya drastis, setelah ia melihat dengan jelas siapa yang sedang berbicara dengan teman sebangkunya itu. Namun Rastari terlanjur menengok, teman bicaranyalah yang meng-kode Rastari
“Hai Me!” Rastari Menyapa
“Oh, Hei!” ame tak lagi bisa fokus dalam memberikan respon dari sapaan temannya. Matanya masih sinis memandang teman bicara Rastari.
“Aku masuk dulu ya, Ras!” Sampai detik terakhirnyapun Ame sama sekali tidak fokus dengan lawan bicaranya, Rastari. Malah ia berpindah lawan bicara tepat setelah matanya terhenti pada tangan kanan orang di sebelah Rastari.
“Bisa, ya! Orang macam kamu pake’ gelang itu. Ternyata kamu cowok juga toh!”
Kursi nomor tiga dari depan sebelah tembok, ia duduki begitu memasuki ruangan les nya. Menerawang, Ame menyandarkan punggungnya ke dinding terdekat.
Kok aku jadi ribet sendiri sih. Knapa sikapku ke Diko malah jadi nggak kekontrol gini! Ngapain juga aku komentarin gelang itemnya! Penting nggak sih! Tapi pantes, agak beda, rupanya gara-gara gelang itu toh! Not bad lah!
Ame tersenyum sendiri memandang tangan kanannya yang memakai gelang serupa.
Mck!
“Fokus me! Fokus!” Kata Ame sembari menepukkan kedua tangannya di depan wajah beberapa kali.
Apa-apaan sih!
Hiih.. amit-amit deh!
Sadar dong
“Ssshh! Huuh..” Ame mendengus, mencoba mengeluarkan isi otaknya yang aneh.
“Me,
Pandangan Ame jatuh ke halaman-halaman dari map hijau yang ada di pangkuannya. Ia baru saja membolak-balik lembaran-lembaran yang penuh dengan gambar dirinya, sepuluh menit lalu. Ia sadar, tempo itu Diko baru saja membuka segala rahasia hatinya.
Ame berusaha mencari sosok yang sangat ingin ia temukan.
Itu dia Rasta!
Sejenak Ame memandang penuh bimbang pada gadis itu. Rasta mengangguk dengan raut bahagia, tampak tulus, walaupun ada sudut kecil yang menjelaskan keberatannya.
Ame merasa lebih baik, hanya belum cukup baik.
“Aku nggak bisa jawab sekarang.” Selain senyum kecil penuh hormat, kata itu jadi kata terakhirnya siang itu. Ame berdiri menyandang tasnya dan meninggalkan kerumunan kecil teman-temannya. Diko mengikutinya hingga pintu kelas, terhenti, tegak memandang Ame yang memunggunginya, berusaha mengerti. Ame berjalan.
Aku tahu Ras, ini nggak akan pernah adil buat kamu. Sorry. Tapi aku nggak sejahat itu. Nggak akan aku ijinin kamu nyaksiin peristiwa yang jelas ngehancurin ‘atimu. Makasih anggukanmu, Ras! Tunggu aku, Ko!
Sembari hatinya bergejolak, sebuah sms terkirim. Ia masukkan HP-nya ke dalam tasnya. Dengan tetap memunggungi mereka yang menantikan jawaban yang lebih darinya.
‘Drrrt..’
Diko memeriksa HP-nya yang baru saja bergetar. Sebentar setelahnya ia memandang Ame yang semakin menjauh, ia tersenyum.
A. Maulani --03052007
Labels: cerpen, pengorbanan, persahabatan, sma
0 comments
6:40 PM
Owner.
Meet me,
Welcome here,
Walaupun menulis adalah salah satu passionku, tapi menurutku, aku sama sekali tidak produktif. Semoga dengan kupublikasikan tulisanku, produktivitas dan kualitas tulisanku akan jauh meningkat.. Apapun pikiran, pendapat, atau celaan kalian, AKU MOHON, share-in sama aku ya.. Makasih...
music.
Lagu ini pas banget buat jadi "wake up" song, biar hari jadi lebih semangat
Kalo mau download, dibawah lirik ada link nya
Buddies.
Vault.
August 2008 September 2008 December 2008 February 2009 January 2011
thanks.
Layout by BAKEDPOTATOE, with help from sm3no for the image and fonts, Print Dashed and Violation.